UMKM

Mengapa UMKM di Indonesia Sulit ‘Naik Kelas’ atau Berkembang? Ini Beberapa Penyebabnya

×

Mengapa UMKM di Indonesia Sulit ‘Naik Kelas’ atau Berkembang? Ini Beberapa Penyebabnya

Sebarkan artikel ini
UMKM
Ilustrasi pelaku UMKM. (Pixabay)

KITAINDONESIASATU.COM – Meskipun usaha mikro kecil menengah (UMKM) memiliki peran yang sangat besar dan menjadi pondasi perekonomian di Indonesia selama ini, namun masih banyak UMKM yang sulit berkembang.

UMKM sebenarnya terbukti sebagai skala usaha yang mampu bertahan di berbagai era krisis ekonomi selama ini, seperti krisis moneter tahun 1997 lalu, kemudian dampak krisis global tahun 2008 hingga krisis akibat pandemi Covid-19 lalu.

Berperan penting dalam ekonomi nasional, UMKM terbukti memberikan kontribusi besar dalam menyerap tenaga kerja di Indonesia. Selain itu secara makro menyumbang 60 persen produk domestik bruto (PDB) Indonesia.

Kendati begitu, tidak sedikit UMKM yang masih sulit “naik kelas” atau berkembang selama ini. Salah satunya akibat terkendala agunan (jaminan) untuk mengakses pembiayaan atau kredit ke perbankan.

Meskipun dukungan kredit atau modal usaha bukan satu-satunya bagi UMKM untuk berkembang, namun diakui suntikan dana lewat akses pembiayaan ke perbankan menjadi hal yang turut membantu dan dibutuhkan oleh UMKM.

Diketahui, selain modal (dukungan kredit), sebenarnya ada beberapa faktor lain yang sangat menentukan tumbuh kembangnya UMKM, seperti sumber daya manusia (SDM), aspek produksi, pemasaran, networking (jaringan kerja), dsb.

Namun dalam beberapa kondisi, terlebih setelah masa pandemi, semakin banyak pelaku UMKM, baik itu yang baru merintis usaha maupun telah berjalan, tetap membutuhkan sokongan modal atau dana segar untuk terus mengembangan usahanya.

Faktanya, akses modal ke lembaga pembiayaan konvensional seperti perbankan masih menjadi kendala bagi UMKM terutama dalam menyediakan agunan (jaminan) karena keterbatasan aset yang dimiliki.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *