KITAINDONESIASATU.COM-Kholid Miqdar yang menjadi sorotan publik karena sikap vokalnya dalam menolak berbagai proyek pembangunan berskala besar di Banten, mengaku sering menerima ancaman dan tekanan dari berbagai pihak.
Beredar info bahwa tokoh nelayan asal Banten ini akan dilaporkan Bareskrim Polri oleh kelompok masyarakat yang kurang senang dengan kevokalan Kholid terkait pagar laut di Pesisir Kabupaten Tangerang.
“Kalau dalam Bahasa Pontang, gelagatnya memang ada. Tapi, saya pikir itu nanti dulu. Saat ini, saya sedang fokus menganyam akar rumput agar dapat merangkul masyarakat, terutama para ulama. Ziarah sudah dilakukan, tetapi para alim ulama perlu kita ajak kembali berdiskusi, agar langkah yang kami ambil tidak keliru,” ujarnya, kemrinKholid juga menuturkan bahwa meskipun ancaman fisik mungkin dipertimbangkan oleh pihak tertentu, ancaman secara psikologis sudah mulai muncul.
“Kalau ancaman fisik, mereka pasti mikir dulu. Tapi, secara psikologis ada. Contohnya, kemarin tiba-tiba muncul kelompok yang mengatasnamakan ‘penyelamat Banten’ tanpa alamat yang jelas, berusaha melaporkan saya. Saya anggap itu hanya tes ombak untuk melihat seberapa besar gelombangnya,” ungkap Kholid.
Kholid mengaku hingga saat ini, belum menerima surat panggilan resmi. Namun, ada beberapa pihak yang jantan melalui telepon menghubungi dirinya, bahkan ada yang mengaku sebagai pengacara dan mencoba melayangkan somasi dalam waktu 1×24 jam terkait pernyataannya.
“Itu bentuk intimidasi. Banyak yang berusaha mencari saya, tapi sampai sekarang belum ada berani menemuisaya. Saya sudah dua kali disomasi dalam 1×24 jam. Yang pertama karena saya menyebut ada keterlibatan calo tanah dengan lurah. Tapi, saya siap mempertanggung jawabkan semua pernyataan saya,” tegas Kholid.
Kholid menegaskan bahwa semua yang disampaikan berdasarkan data dan fakta. “Dasar saya bicara ya data. Silakan dilaporkan, karena nanti data ini yang akan kita bawa dalam proses hukum. Justru ini akan membuktikan siapa sebenarnya yang melanggar hukum,” katanya.
Sekali lagi, tegas Kholid, dirinya tidak gentar dengan segala bentuk ancaman, baik itu penjara maupun kematian, karena ia meyakini perjuangannya adalah untuk menegakkan kebenaran. “Saya sudah mempertimbangkan dengan matang tentang kematian, apalagi hanya penjara. Itu adalah konsekuensi perjuangan dalam membela yang haq (benar),” ujarnya.

