KITAINDONESIASATU.COM – Dampak signifikan konflik AS dan Israel melawan Iran mulai dirasakan yang terjadi sejak awal tahun terhadap arus pedagangan energi global.
Selat Hormuz merupakan jalur semput yang selama ini menjadi urat nadi pengiraman minyak dunia menjadi lokasi paling penting setelah adanya penutupan.
Gangguan lalu lintas transportasi kapal laut melalui Selat Hormuz benar-benar dirasakan negara seluruh dunia, menyusul jalur alternatif belum ditemukan solusinya.
Negara-negara di Timur Tengah saat ini sedang dalam krisis dan mengalami keterbatasan dalam mencari jalur alternatif untuk mengekspor minyak dan gas.
International Energy Agency (IEA) melaporkan situasi ini menjadi gangguan pasokan terbesar dalam sejarah modern saat ini setelah sebelumnya terjadi dua peristiwa besar pada tahun 1970-an dan gangguan gas pipa Rusia setelah invasi Moskow ke Ukraina.
Bahkan gangguan yang terjadi saat ini lebih besar dari dua persistiwa besar yang pernah terjadi sebelumnya itu, demikian dilaporkan IEA dalam laporan pasar minyak baru seperti dilansir kompas.com, Rabu (22/4/2026).
Sementara perundingan kedua negara yang berkonflik terus dilakukan, di sisi lain Presiden AS Donald Trump memperpanjang gencatan senjata hingga proposal Iran diajukan.
Perundingan pun masih berjalan alot belum memenuhi titik temu kedua belah pihak tetap berpegang tegung pada retorita mereka.
Sebelum mengumumkan perpanjangan gencatan senjata, Presiden Trump telah memperingatkan bahwa banyak bom akan mulai meledak jika tidak ada kesepakatan sebelum batas waktu Rabu (22/4/2026).
Sementara kepala negosiator Iran mengatakan bahwa Teheran memiliki kartu baru di medan perang yang belum diungkapkan.
Bahkan seorang komandan senior di Korps Garda Revolusi Islam Iran mengancam akan menghancurkan industri minyak kawasan itu jika perang dengan AS berlanjut.
“Jika negara-negara tetangga di selatan mengizinkan musuh menggunakan fasilitas mereka untuk menyerang Iran, mereka harus mengucapkan selamat tinggal pada produksi minyak di kawasan Timur Tengah,” kata Jenderal Majid Mousavi kepada sebuah situs berita Iran. **
