KITAINDONESIASATU.COM – Ingat Astra ingan William Soerjadjay. Moncernya Astra, grup raksasa bisnis otomotif Indonesia, memang tak bisa dilepas dari nama pendirinya, William Soerjadjaya atau dikenal dengan panggilan Om Willem.
Di era ‘80–an, William Soerjadjaja atau Tjia Kian Liong merupakan raja otomotif Indonesia. Dia adalah pendiri Astra International yang menaungi merek mobil ternama, antara lain Toyota, Daihatsu, Isuzu, Nissan, Lexus, Peugeot, dan BMW.
Sejak berdiri tahun 1957, Astra sukses menguasai lebih dari 50% pasar mobil di Indonesia. Tak heran, Om Willem dan keluarganya mendapat kedudukan terhormat.
Sayangnya, saat berada di puncak kejayaan William diterpa badai besar yang membuatnya jatuh tersungkur.
Cerita bermula ketika putra sulungnya, Edward Soerjadjaja, membeli Bank Agung Asia pada 1988. Bank tersebut berubah nama menjadi Bank Summa.
Richard Borsuk dan Nancy Chng dalam bukunya yang berjudul “Liem Sioe Liong dan Salim Grup“ (2016) menyebut, Bank Summa dalam sekejap tumbuh besar di tangan keluarga Soerjadjaja.
Bahkan, masuk ke dalam 10 bank swasta terbaik di Indonesia pada akhir 1990. Namun, setahun kemudian Bank Summa dilanda krisis.
Hal ini, antara lain, banyak kontraktor yang gagal membayar cicilan ke bank tersebut. Ditambah lagi, Bank Summa terlilit hutang luar negeri mencapai Rp 1,5 triliun.
Pada kondisi ini, Bank Summa terjepit dan malah berada tidak diberi pertolongan oleh Bank Indonesia (BI) tanpa alasan jelas.
Maka, untuk menyelamatkan uang para nasabah William mengambil keputusan paling pahit dalam kiprah bisnis.
Ia rela menjual 76% kepemilikan saham di Astra International, kala itu merupakan konglomerasi terbesar kedua di Indonesia.
Parahnya lagi, William terpaksa menjual sahamnya di Astra di bawah harga pasar sebesar Rp 10.000, dijual dengan harga Rp 7000-8000 per lembar.
Di balik kebangkrutannya itu, banyak cerita bermunculan, antara lain, ada yang beranggapan terdapat konspirasi besar untuk menjatuhkan William dan Astra.
