Sosok

Profil William Soerjadjaya, Pengusaha Otomotif yang Cinta Tanah Air

×

Profil William Soerjadjaya, Pengusaha Otomotif yang Cinta Tanah Air

Sebarkan artikel ini
astra

Profil William Soerjadjaja

William Soerjadjaya merupakan anak kedua dari enam bersaudara. Namun, pria kelahiran 20 Desember 1922 ini adalah anak laki-laki pertama dari saudara-saudaranya.

Ayahnya meninggal dunia pada Oktober 1934, saat William berusia 12 tahun. Kemudian ibunya menyusulpada Desember 1934. 

William, dalam usia yang masih sangat muda, melanjutkan usaha ayahnya, berjualan hasil bumi. Ia tampaknya mewarisi bakat dagang ayahnya.

Sewaktu bersekolah di tempat kelahirannya, di HCZS (Hollands Chinesche Zendingsschool) di Kadipaten Majalengka, pada masa penjajahan Belanda, ia sempat tidak naik kelas. 

Namun karena ketekunannya, ia berhasil melanjutkan pendidikannya ke MULO di Cirebon dan pernah juga tidak naik kelas.

Dari pelajaran-pelajaran yang diberikan di sekolah, William paling menyukai pelajaran ekonomi dan tata buku. Dengan modal pengetahuan itu, ia membangun seluruh usahanya.

William kemudian pindah ke Kota Bandung, disana ia bertemu dengan jodohnya bernama Lily Anwar. Perempuan kelahiran 1924 ia lamar dan pada 15 Januari 1945.

Pernikahan mereka berlangsung dengan sangat sederhana. “Kami ke kantor catatan sipil naik becak,” kata William mengenang.

Ia menikah tanpa dihadiri tamu undangan dan mengenakan baju biasa saja. Benar-benar sangat sederhana. 

Tidak ada tukang potret yang hadir, itu sebabnya ia tidak punya potret pernikahan. “Setelah selesai nikah, kami pulang ke Jalan Merdeka naik becak lagi,” begitu kisah William.

Dari hasil perkawinannya, ia dikaruniai empat orang anak, yaitu Edward Soeryadjaja (22 Mei 1947), Edwin Soeryadjaya (17 Juli 1949), Joyce (14 Agustus 1951), dan Judith (14 Februari 1953).[1]

Belum dua minggu menikah, William berangkat untuk belajar di Belanda mempelajari ilmu penyamakan kulit.

Dalam kehidupan yang sangat sederhana, mereka masih dapat menyewa satu kamar di sebuah hotel di Amsterdam. 

Setahun sebelumnya, pada 1948, ketika Edward lahir, mereka hidup dengan berjualan kacang dan rokok yang dikirim dari Bandung.

Pada 1957, William bersama adiknya, Tjia Kian Tie, dan temannya, Lim Peng Hong serta Teddy Thohir, mendirikan PT Astra.

Saat berdiri,  Astra awalnya hanya usaha memasarkan minuman ringan dan mengekspor hasil bumi. 

Usaha otomotif baru dirintis 11 tahun kemudian, yakni pada 1968. Saat itu Astra mulai mengimpor truk dan dalam waktu 13 tahun saja, sudah 72 perusahaan yang bernaung di bawah bendera grup itu. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *