Menurut Ricardi S. Adnan dalam disertasinya berjudul “The Shifting Patronage: Dinamika Hubungan Pengusaha dan Penguasa dalam Industri Otomotif 1969-1998”(2010), ada hubungan antara ketidaksukaan Presiden Soeharto terhadap William dan Astra.
Tidak seperti pengusaha lain yang berlomba-lomba dekat dan menjadi tangan kanan penguasa, Om Willem malah bersikap independen dan sangat menjaga profesionalisme.
Bahkan, posisi politik William berseberangan dengan penguasa saat itu. Diketahui, pendiri Astra itu dekat dengan Megawati dan menjadi donatur tetap Partai Demokrasi Indonesia (PDI).
Tercatat pula ia pernah membangun kerjasama bisnis dengan Nahdlatul Ulama dan mantan Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.
Independensi William ini juga terlihat pada sikapnya yang tidak memanjakan penguasa dengan berbagai hadiah.
Astra tidak pernah memberikan diskon kendaraan kepada pemerintah, petinggi militer, dan pejabat pemerintah.
Dia juga tidak mau memberi bantuan ketika Bank Duta —milik anak Presiden Soeharto kala itu —dilanda kesulitan.
Mantan anggota DPR Ichsanuddin Noorsy pun menyebut, Bank Summa sengaja dilemahkan dengan mencabut kliringnya.
Baginya, Bank Summa dinilai sangat sehat dan kuat. Tidak mungkin bank tersebut tiba-tiba bangkrut.
William juga mengakui secara eksplisit. “Telah terjadi konspirasi yang menginginkan saya keluar dari Astra yang telah saya rintis dari awal,” kata Om Willem kepada wartawan kala itu.
Sampai sekarang, teori konspirasi kejatuhan Astra ini masih misterius. Memang, tidak ada bukti Presiden Soeharto melarang pemberian bantuan kepada Bank Summa.
Padahal, faktanya Bank Indonesia pernah memberi bantuan kepada Bank Duta namun menutup pertolongan buat Bank Summa.
Bila melihat relasi penguasa-pengusaha yang lazim di era Soeharto, nampak masuk akal kalau William dan Astra, yang bukan kroni Soeharto, berupaya dijegal.
Usai kejadian itu Astra tak lagi milik William. Pilar utama kekayaan William pun runtuh. Keluarganya harus mencari mesin pendulang uang yang baru.
Upaya memasukkan kembali William ke dalam Astra di era Megawati dan Gus Dur pun gagal.
Setelahnya Astra dipegang oleh Putra Sampoerna (14,67%), Bob Hasan (8,83%), Prajogo Pangestu (10,68%), Toyota Jepang (8,26%), Kelompok Salim (8,19%), Usman Atmadjaja (5,99%) dan sisanya tersebar di tangan publik.
