KITAINDONESIASATU.COM – Komisi I DPR RI meminta Kementerian Luar Negeri (Kemlu) mencermati pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menjadikan nama Mohammad sebagai bahan lelucon saat menyinggung kepemimpinan Iran.
Pernyataan tersebut dinilai perlu disikapi secara hati-hati karena menyangkut identitas dan sensitivitas keagamaan.
Wakil Ketua Komisi I DPR Dave Laksono menyampaikan bahwa pemimpin dunia perlu mempertimbangkan dampak pernyataan publik, terutama ketika berkaitan dengan simbol atau nama yang memiliki makna penting bagi pemeluk agama tertentu.
Menurutnya, kebebasan berpendapat harus berjalan seiring dengan tanggung jawab dan penghormatan terhadap keyakinan orang lain.
Dave menilai nama Mohammad mempunyai makna religius mendalam bagi umat Islam. Oleh karena itu, penggunaannya sebagai bahan humor dalam konteks politik perlu dicermati agar tidak memicu kesalahpahaman maupun melukai perasaan masyarakat beragama.
Kemlu Diminta Kedepankan Diplomasi Terukur
Dave meminta Kemlu RI menilai kemungkinan langkah diplomatik yang sesuai. Komunikasi dengan pihak terkait dapat dipertimbangkan untuk menyampaikan pentingnya menghormati sensitivitas keagamaan, tanpa mengambil tindakan tergesa-gesa yang berpotensi memperkeruh hubungan bilateral.
Ia juga menekankan bahwa Indonesia memiliki komitmen terhadap toleransi, penghormatan antarumat beragama, dan hubungan internasional yang saling menghargai. Prinsip tersebut, menurutnya, perlu terus disuarakan dalam menghadapi berbagai dinamika politik global.
Sikap serupa disampaikan Wakil Ketua Komisi I DPR Sukamta. Ia mengecam penggunaan nama Muhammad sebagai bahan olok-olok, terlebih ketika pernyataan itu disampaikan oleh seorang kepala negara yang memiliki pengaruh luas terhadap opini publik internasional.
Sukamta menilai perbedaan pandangan politik dan kritik terhadap kebijakan negara seharusnya tidak menyeret identitas agama ke dalam ejekan. Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran, menurutnya, tetap perlu dibahas dengan mempertimbangkan penghormatan terhadap keyakinan masyarakat.
Sebelumnya, Trump melontarkan candaan mengenai popularitas nama Mohammad dalam pidato di hadapan pendukungnya. Ia menyebut nama tersebut ketika membahas seseorang dari Timur Tengah. Pernyataan itu kemudian mendapat sorotan dan memicu tanggapan dari sejumlah anggota DPR RI.





