KITAINDONESIASATU.COM – Rencana penambahan pelaksanaan Car Free Day (CFD) di Jakarta menjadi dua kali dalam sepekan, yakni Sabtu dan Minggu, mulai menuai sorotan dari warganet.
Usulan tersebut sebelumnya disampaikan Menteri Lingkungan Hidup (LH) Jumhur Hidayat. Gagasan itu memunculkan perdebatan di media sosial. Sejumlah warganet mempertanyakan dasar kajian kebijakan tersebut dan meminta pemerintah melakukan riset lebih mendalam sebelum menerapkannya.
Sorotan warganet salah satunya berkaitan dengan perubahan pola transportasi di Jakarta. Saat ini, kendaraan listrik semakin banyak digunakan, sementara masyarakat juga memiliki beragam pilihan transportasi publik seperti TransJakarta, Mikrotrans JakLingko, MRT Jakarta, dan layanan transportasi umum lainnya.
Karena itu, sebagian warganet mempertanyakan apakah persoalan kualitas udara di Jakarta semata-mata berkaitan dengan emisi kendaraan bermotor atau terdapat faktor lain yang juga perlu diperhitungkan.
Di tengah polemik tersebut, Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, tidak serta-merta menyetujui usulan CFD dua kali dalam sepekan.
Pramono mengatakan Pemprov DKI masih melakukan kajian secara serius dan menyeluruh. Menurutnya, pelaksanaan CFD pada Sabtu dan Minggu harus mempertimbangkan berbagai aspek, termasuk aktivitas perkantoran, hotel, pertokoan, serta mobilitas masyarakat.
Pramono juga menegaskan bahwa apabila CFD Sabtu diterapkan, pelaksanaannya tidak memungkinkan dilakukan sekaligus di dua lokasi utama, yakni kawasan Sudirman-Thamrin dan Rasuna Said.
“Saya mengkaji secara serius usulan Bapak Menteri Lingkungan Hidup untuk Sabtu-Minggu. Tetapi kalau kemudian hari Sabtu kedua-duanya, apakah itu yang diatur oleh pemerintah pusat di Rasuna Said dan apa di Sudirman-Thamrin ini, tentunya nggak bisa dua-duanya, harus salah satu,” ujar Pramono, belum lama ini.
Menurut Pramono, pemerintah tidak ingin kebijakan tersebut justru mengganggu aktivitas ekonomi dan kegiatan masyarakat di kawasan yang menjadi lokasi CFD.
“Karena kami juga nggak ingin kantor-kantor yang masuk, kemudian juga hotel, pertokoan terganggu,” kata Pramono.
Komentar Pedas Warganet
Usulan CFD digelar dua kali dalam sepekan pun langsung menjadi bahan perbincangan di media sosial.
Sejumlah warganet meminta pemerintah tidak terburu-buru menerapkan kebijakan tersebut. Mereka menilai diperlukan data dan riset yang lebih komprehensif untuk mengetahui sumber persoalan kualitas udara Jakarta.
“Ya nggak lah. Harus riset ulang ukur tingkat polusi di Jakarta apakah karena kendaraan atau yang lain. Setelah banyaknya EV, penggunaan Pertamax, biodiesel, banyaknya transum, usulan ini layak di-challenge balik. Dari mana data kementerian lingkungan berasal?,” tulis salah satu warganet.
Komentar lain muncul dengan nada menyindir rencana tersebut.
“Kalau boleh car free day 5 hari, sisanya 2 hari saja dibuka untuk umum, supaya ramai-ramai pindah ibu kota ke IKN,” tulis seorang netizen.
Ada pula warganet yang melontarkan komentar singkat bernada satire.
“Kalau bisa 7 hari seminggu,” timpal warganet lainnya.
Perdebatan di dunia maya tersebut menunjukkan bahwa usulan CFD dua kali sepekan masih memiliki sejumlah aspek yang dipertanyakan publik.
Sementara itu, Pemprov DKI Jakarta masih melakukan kajian sebelum menentukan pola pelaksanaan yang dinilai tidak mengganggu aktivitas warga maupun kegiatan ekonomi. (*)





