KITAINDONESIASATU.COM — Dalam berbagai kajian tasawuf kontemporer, Kitab Al-Hikam karya Syekh Ibnu Atha’illah as-Syakandari terus menjadi rujukan utama untuk menata spiritualitas masyarakat modern.
Salah satu untaian spiritual yang sarat akan makna mendalam adalah hikmah kelima, yang secara khusus mengingatkan manusia mengenai bahaya kebutaan mata batin (intimasul bashirah).
Hikmah tersebut menegaskan bahwa kesungguhan seseorang dalam mengejar urusan yang sebenarnya sudah dijamin oleh Tuhan—seperti rezeki harian dan materi duniawi—namun dibarengi dengan kelalaian dalam menunaikan apa yang dituntut darinya, seperti ibadah dan kewajiban agama, merupakan tanda nyata redupnya cahaya batin.
Ibnu Atha’illah mengajak umat untuk merenungkan kembali skala prioritas hidup agar tidak terjebak dalam kecemasan finansial yang berlebihan.
Para ulama menjelaskan bahwa hikmah ini tidak melarang manusia untuk bekerja keras atau berikhtiar mencari nafkah. Sebaliknya, pesan luhur ini menjadi kritik tajam bagi mereka yang menghabiskan seluruh waktu dan energi demi materi hingga mengorbankan spiritualitas.
Rezeki adalah domain ketentuan Allah yang pasti dipenuhi, sedangkan pengabdian adalah tugas mutlak hamba-Nya. Memahami esensi hikmah kelima ini menjadi kunci utama untuk meraih ketenangan jiwa yang hakiki di tengah dinamika kehidupan.(*)




