KITAINDONESIASATU.COM – Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah Amerika Serikat melancarkan serangan militer terhadap sejumlah target di Iran menyusul insiden yang melibatkan tiga kapal tanker di Selat Hormuz.
Langkah tersebut memicu kekhawatiran dunia terhadap stabilitas kawasan sekaligus keamanan jalur pelayaran internasional yang menjadi salah satu rute distribusi energi paling penting di dunia.
Situasi ini juga memunculkan kekhawatiran akan dampaknya terhadap harga minyak global dan hubungan diplomatik antara kedua negara.
Ketegangan AS dan Iran Kembali Memanas di Selat Hormuz
Komando Pusat Amerika Serikat menyatakan telah menyerang lebih dari 80 target yang disebut berkaitan dengan infrastruktur militer Iran.
Target tersebut meliputi kapal cepat milik Garda Revolusi Iran, lokasi peluncuran rudal, serta pusat komando yang dinilai berhubungan dengan ancaman terhadap pelayaran internasional di Selat Hormuz.
Pemerintah Amerika Serikat menyebut operasi militer dilakukan sebagai respons atas serangan terhadap kapal tanker komersial yang melintas di jalur tersebut.
Washington menegaskan tindakan itu bertujuan menjaga keamanan pelayaran internasional dan melindungi distribusi energi global.
Di sisi lain, Iran mengecam serangan tersebut dan menyebutnya sebagai pelanggaran terhadap nota kesepahaman yang sebelumnya disepakati kedua negara.
Teheran menegaskan akan mengambil langkah yang dianggap perlu untuk melindungi kepentingan nasional dan keamanan negaranya.
Ketegangan juga mendapat sorotan dari sejumlah negara di kawasan Teluk yang menyerukan pentingnya menjaga stabilitas serta keselamatan jalur perdagangan internasional.





