KITAINDONESIASATU.COM – Gelombang panas ekstrem yang melanda Eropa pada akhir Juni 2026 menimbulkan dampak serius terhadap kesehatan masyarakat.
Prancis, Belgia, dan Belanda melaporkan sedikitnya 3.700 kasus kematian berlebih selama periode suhu tinggi yang berlangsung sekitar 20 hingga 28 Juni.
Jumlah tersebut masih bersifat sementara karena proses pendataan terus dilakukan dan diperkirakan akan bertambah dalam beberapa waktu ke depan.
Fenomena cuaca ekstrem ini menjadi salah satu gelombang panas paling parah yang pernah terjadi di kawasan Eropa.
Selain meningkatkan angka kematian, suhu yang melonjak drastis juga memicu gangguan pada pembangkit listrik, merusak sejumlah infrastruktur, serta memberikan tekanan besar terhadap layanan kesehatan di berbagai negara.
Para ilmuwan menilai perubahan iklim menjadi faktor utama yang memperparah frekuensi dan intensitas gelombang panas.
Prancis Jadi Negara dengan Korban Gelombang panas Terbanyak
Prancis mencatat jumlah kematian berlebih tertinggi, yakni sekitar 2.025 kasus. Peningkatan angka kematian paling banyak terjadi pada kelompok usia di atas 45 tahun.
Otoritas kesehatan juga menemukan lonjakan signifikan pada kasus kematian yang terjadi di rumah, panti jompo, hingga fasilitas pelayanan kesehatan selama puncak gelombang panas.
Di Belgia, sekitar 1.200 kematian berlebih dilaporkan dalam rentang 18 hingga 29 Juni. Sebagian besar korban berasal dari kelompok lanjut usia, meski ratusan kasus juga tercatat pada warga berusia di bawah 65 tahun.
Pemerintah setempat menyebut besarnya angka tersebut belum pernah terjadi sebelumnya selama peristiwa gelombang panas.

