KITAINDONESIASATU.COM- Pemerintah Kelurahan Sindangrasa, Kecamatan Bogor Timur, Kota Bogor, menyatakan kesiapan wilayahnya dalam mendukung kelanjutan pembangunan Jalur Regional III (R3). Proyek strategis tersebut diyakini akan menjadi pengungkit pertumbuhan ekonomi warga sekaligus solusi mengurai kemacetan di kawasan Tajur.
Hal itu disampaikan Lurah Sindangrasa, Muhamad Badru Jaman, saat memaparkan profil wilayah, potensi pembangunan, kondisi sosial ekonomi, hingga kesiapsiagaan masyarakat terhadap proyek R3, Selasa 9 Juni 2026.
Menurut Badru Jaman, keberadaan Jalur R3 akan membuka akses yang selama ini menjadi salah satu kendala pengembangan ekonomi wilayah Sindangrasa.
“Saat ini kondisi ekonomi kita terkesan berada di dalam, dalam tanda kutip potensinya agak kurang karena aksesnya tersembunyi jika dibandingkan dengan wilayah yang berada di sisi jalan utama. Tetapi nanti kalau Jalur R3 ini sudah jadi dan terkoneksi, kebangkitan ekonomi di Sindangrasa akan sangat luar biasa,” kata Badru.
Ia juga memastikan proses komunikasi dan sosialisasi kepada masyarakat yang terdampak proyek berjalan kondusif. Warga, kata dia, justru menunjukkan dukungan terhadap realisasi pembangunan tersebut.
“Secara kasat mata, masyarakat justru menyambut baik dan mendukung penuh. Mereka sering bertanya kapan realisasinya. Komunikasi dan sosialisasi lewat RT, RW, serta tim teknis berjalan aman dan lancar. Kami terus memverifikasi data agar tidak ada satu pun bidang tanah warga yang terlewat atau tidak terdaftar,” tegasnya.
Kelurahan Sindangrasa memiliki luas wilayah sekitar 106 hektare. Berdasarkan peta potensi wilayah, kawasan permukiman mendominasi penggunaan lahan, sementara sektor pertanian relatif terbatas.
“Persentase permukiman kita berada di angka 2,6%, sedangkan sawah hanya sisa 3,5% dengan kondisi eksisting ladang sekitar 19,77%. Artinya, keberadaan sawah dan kebun yang sedikit ini menggambarkan bahwa penduduk kita tidak memiliki tradisi atau kultural yang kuat di bidang pertanian,” ujar Badru Jaman.
Melihat kondisi tersebut, Pemerintah Kelurahan Sindangrasa mendorong penguatan program pertanian perkotaan atau urban farming guna memanfaatkan lahan terbatas yang masih tersedia.
“Program urban farming harus diperkuat untuk memotivasi warga agar bergerak di bidang pertanian perkotaan, memanfaatkan lahan-lahan terbatas yang ada,” lanjutnya.
Di sisi lain, Sindangrasa memiliki karakteristik geografis yang diapit dua sungai besar serta sejumlah titik mata air. Kondisi tersebut memberikan potensi sumber daya air yang cukup baik, namun sekaligus menimbulkan risiko banjir limpahan yang membutuhkan penguatan sistem drainase.
Berdasarkan data semester II tahun 2025, jumlah penduduk Kelurahan Sindangrasa mencapai 16.967 jiwa dengan 3.869 unit rumah. Pertumbuhan penduduk tersebut berdampak pada meningkatnya volume sampah harian yang mencapai sekitar 11.388 kilogram atau 11,3 ton per hari.
Namun, kapasitas pengangkutan sampah oleh armada resmi saat ini baru mencapai sekitar 3.000 kilogram per hari.
“Sisanya dikelola melalui program inovatif di masyarakat, salah satunya melalui pengembangan bank sampah dan pengelolaan mandiri untuk memilah sampah organik dan anorganik,” jelas Badru.
Dari sektor ekonomi, Sindangrasa memiliki 4.187 wajib pajak dengan potensi fiskal mencapai Rp2,7 miliar. Realisasi Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) hingga saat ini mencapai sekitar 67,5 persen atau setara Rp1,75 miliar.
Selain itu, terdapat 940 pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang terus mendapatkan pembinaan serta dukungan stimulus agar mampu meningkatkan skala usahanya.
Terkait informasi bahwa Jalur R3 akan melintasi kawasan wisata Kuntum, Badru menyebut pihak kelurahan belum menerima data resmi mengenai langkah yang akan ditempuh pengelola destinasi wisata tersebut.
Meski demikian, keberadaan objek wisata tersebut selama ini dinilai memberikan kontribusi positif terhadap penyerapan tenaga kerja lokal dan partisipasi masyarakat dalam menjaga lingkungan.
Sebagai langkah antisipasi kemacetan selama proses pembangunan berlangsung, pemerintah terus berkoordinasi untuk mengoptimalkan jalur alternatif menuju Ciawi, termasuk pemasangan rambu petunjuk jalan dan lampu penerangan pada sejumlah titik rawan kepadatan lalu lintas.
Sementara itu, pembangunan di Kelurahan Sindangrasa terus mendapat dukungan anggaran dari berbagai sumber. Pada Tahun Anggaran 2025, pembangunan wilayah didukung APBD Kota Bogor, tambahan intervensi APBN sebesar Rp140 juta, serta kontribusi CSR dan swadaya masyarakat senilai Rp100 juta.
Selain fokus pada pembangunan infrastruktur, Pemerintah Kelurahan Sindangrasa juga terus meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana. Berdasarkan data rekapitulasi kelurahan, sejumlah kejadian yang kerap terjadi meliputi tanah longsor, tembok runtuh, pohon tumbang, banjir limpahan, hingga rumah ambruk.
“Kejadian rumah ambruk rata-rata menimpa bangunan dengan struktur lama yang belum menggunakan standar konstruksi modern, yang kemudian terkikis oleh faktor usia dan cuaca buruk. Kami terus mengimbau warga melalui pengurus RT dan RW yang berjumlah 64 personel (52 RT dan 12 RW) untuk meningkatkan kesiapsiagaan lingkungan,” pungkas Badru Jaman.


