KITAINDONESIASATU.COM – Indonesia merupakan bangsa yang dibangun di atas fondasi keberagaman. Perbedaan suku, budaya, bahasa, dan agama menjadi identitas sekaligus tantangan yang harus dikelola secara bijaksana. Dalam konteks ini, perguruan tinggi memegang peran strategis sebagai ruang pembentukan karakter generasi muda.
Universitas INABA menunjukkan peran tersebut melalui peringatan Natal yang tidak hanya bersifat ritual keagamaan, tetapi juga sarat dengan nilai inklusivitas, ukhuwah, dan toleransi beragama, salah satunya melalui kegiatan Sinterklas Berbagi.
Peringatan Natal di Universitas INABA merupakan refleksi nyata bahwa kampus menghormati hak setiap individu untuk menjalankan keyakinannya. Lebih dari sekedar seremoni, kegiatan ini menjadi simbol pengakuan atas keberagaman iman yang hidup berdampingan dalam lingkungan akademik.
Universitas INABA menegaskan dirinya sebagai kampus inklusif yang memberikan ruang aman, nyaman, dan bermartabat bagi seluruh civitas akademika tanpa memandang latar belakang agama.
Nilai inklusivitas tersebut semakin terasa melalui kegiatan Sinterklas Berbagi, yang menjadi bagian penting dari rangkaian peringatan Natal tahun ini.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya merayakan Natal secara internal, tetapi juga mengekspresikan nilai kasih dan kepedulian sosial kepada sesama. Pembagian hadiah dan kebersamaan dengan seluruh mahasiswa di kampus menghadirkan makna Natal yang lebih substantif terkait berbagi, mengasihi, dan melayani tanpa sekat identitas.
Kegiatan Sinterklas Berbagi juga menjadi medium pembelajaran sosial bagi mahasiswa lintas agama. Mahasiswa yang tidak merayakan Natal tetap dapat berpartisipasi dalam semangat kebersamaan dan toleransi.
Kehadiran mereka bukan sebagai bentuk pencampuran keyakinan, melainkan wujud empati dan solidaritas sosial. Di sinilah toleransi beragama menemukan maknanya yang paling konkret dengan saling menghormati, saling mendukung, dan saling menjaga keharmonisan tanpa harus mengorbankan keyakinan pribadi.
Lebih jauh, peringatan Natal di Universitas INABA berperan sebagai penjaga ukhuwah mahasiswa. Ukhuwah dalam konteks ini tidak dimaknai secara sempit sebagai persaudaraan seiman, melainkan sebagai persaudaraan kemanusiaan.
Melalui interaksi, kolaborasi, dan keterlibatan dalam kegiatan sosial seperti Sinterklas Berbagi, mahasiswa belajar bahwa perbedaan bukan sumber konflik, melainkan sarana memperkaya perspektif dan memperkuat solidaritas.
Peran Universitas INABA sebagai kampus inklusif juga tercermin dalam hubungannya dengan seluruh sivitas akademi. Kegiatan Sinterklas Berbagi membuka ruang interaksi yang positif antara pimpinan, dosen, tendik, dan mahasiswa, sekaligus menyampaikan pesan bahwa perguruan tinggi hadir bukan sebagai menara gading, tetapi sebagai bagian dari ekosistem sosial.
Masyarakat dapat melihat secara langsung bahwa nilai toleransi dan kebersamaan bukan hanya jargon akademik, melainkan praktik nyata yang dirasakan manfaatnya.
Di tengah meningkatnya tantangan intoleransi dan polarisasi identitas di ruang publik, langkah Universitas INABA perlu di contoh dan diapresiasi. Kampus tidak sekedar bersikap netral, tetapi mengambil peran aktif sebagai agen pemersatu.
Peringatan Natal yang dilaksanakan secara terbuka, damai, dan penuh semangat berbagi menjadi bukti bahwa keberagaman dapat dirawat dengan cara yang bermartabat dan produktif.
Peringatan Natal di Universitas INABA, khususnya melalui kegiatan Sinterklas Berbagi, juga menegaskan bahwa toleransi tidak berarti melemahkan keyakinan. Sebaliknya, toleransi justru memperkuat nilai-nilai universal yang diajarkan oleh semua agama: cinta kasih, kepedulian, dan penghormatan terhadap sesama manusia.
Ketika nilai-nilai ini diwujudkan dalam kehidupan kampus, universitas benar-benar menjadi laboratorium sosial bagi terciptanya masyarakat yang rukun dan berkeadaban.
Pada akhirnya, peringatan Natal di Universitas INABA merupakan wujud nyata komitmen kampus inklusif dalam menjaga ukhuwah mahasiswa dan masyarakat. Dengan semangat toleransi dan kegiatan Sinterklas Berbagi, Universitas INABA membuktikan bahwa perbedaan dapat dirajut menjadi kekuatan.
Inilah peran ideal perguruan tinggi, tidak hanya mencetak insan akademis yang unggul, akan tetapi juga membentuk manusia yang berkarakter, berempati, dan menjunjung tinggi nilai persatuan bangsa.(*)



