Sebagian besar penonton tertawa dan mengapresiasi alur cerita sepak bola yang cerdas dan menghibur, melihat video AI transformasi bayi Lamine Yamal sebagai karya kreatif yang unik.
Namun, tidak sedikit pula yang merasa jijik dan tidak nyaman dengan sisi menyeramkan dari teknologi AI yang semakin canggih.
Beberapa pengguna media sosial bahkan melontarkan kritik tajam mengenai pemborosan energi yang diperlukan untuk membuat video AI semacam ini, dengan lelucon sinis tentang danau yang kering dan habitat penguin yang hilang akibat konsumsi energi yang besar.
Kontroversi seputar video AI transformasi bayi Lamine Yamal ini mencerminkan perdebatan global yang sedang berlangsung mengenai etika penggunaan kecerdasan buatan dalam konten kreatif.
Di satu sisi, teknologi ini memungkinkan visualisasi yang sebelumnya tidak mungkin diciptakan, seperti transformasi Lamine Yamal dari bayi menjadi bintang Piala Dunia 2026.
Di sisi lain, muncul kekhawatiran tentang dampak lingkungan, privasi, dan potensi penyalahgunaan teknologi deepfake yang dapat memanipulasi citra seseorang tanpa persetujuan.***




