Setelah sekitar 25 tahun mengabdi di Pelatnas PBSI, Atik melanjutkan karier ke luar negeri. Ia melatih tim bulu tangkis Swedia pada 1999–2004, kemudian Thailand pada 2006–2008, dan India pada 2009–2010.
Pengalamannya di sejumlah negara menunjukkan pengakuan internasional terhadap kapasitasnya sebagai pelatih.
Kepergian Atik Jauhari menjadi kehilangan besar bagi bulu tangkis Indonesia. Meski tidak selalu berada di bawah sorotan, kontribusinya melahirkan pasangan-pasangan juara dunia dan membangun kejayaan ganda putra akan terus dikenang.
Selamat jalan, Atik Jauhari. Dedikasi dan pengabdianmu menjadi bagian penting sejarah bulu tangkis Indonesia. (*)


