STRATEGI HADAPI TEKANAN
Akibat dari berbagai tantangan tersebut, sejumlah perusahaan mulai menahan perekrutan karyawan baru dan menunda ekspansi untuk menjaga likuiditas. Tekanan biaya yang berkepanjangan dapat meningkatkan risiko PHK, terutama pada sektor padat karya seperti tekstil, alas kaki, makanan-minuman, dan elektronik.
“Berdasarkan masukan dari teman-teman pengusaha dan pengalaman saya sendiri sebagai pengusaha selama sekitar 35 tahun, ada beberapa strategi yang tepat untuk menghadapi situasi saat ini,” ujar Agung.
Pertama, diversifikasi sumber bahan baku. Perusahaan perlu mengurangi ketergantungan pada satu negara pemasok atau satu jenis bahan baku impor. Selain itu, penggunaan bahan baku lokal yang memenuhi standar kualitas juga dapat menjadi solusi jangka panjang untuk meningkatkan ketahanan bisnis.
Kedua, fokus pada efisiensi operasional. Sebaiknya perusahaan mulai melakukan digitalisasi proses bisnis, otomatisasi produksi, pengurangan pemborosan energi, optimalisasi persediaan, serta perbaikan sistem distribusi.
Ketiga, memperkuat manajemen kas. Likuiditas menjadi faktor penting dalam periode penuh ketidakpastian. Pengusaha perlu mempercepat penagihan piutang, mengontrol pengeluaran non-prioritas, menjaga cadangan kas, dan mengelola utang secara lebih konservatif.
Keempat, memanfaatkan peluang ekspor. Bagi perusahaan yang memiliki produk kompetitif, pelemahan Rupiah justru dapat menjadi peluang. Produk Indonesia menjadi relatif lebih murah bagi pembeli luar negeri sehingga daya saing ekspor meningkat.
Kelima, menjaga fleksibilitas strategi bisnis di tengah kondisi ekonomi yang berubah sangat cepat. Fleksibilitas dalam pengelolaan harga, kapasitas produksi, investasi, dan strategi pemasaran menjadi salah satu faktor penentu keberhasilan bertahan di tengah ketidakpastian.
Agung menambahkan bahwa tekanan yang dihadapi dunia usaha saat ini memang berat. Namun sejarah menunjukkan bahwa banyak perusahaan justru lahir lebih kuat setelah berhasil melewati periode krisis. Tantangan terbesar bukan hanya pelemahan Rupiah atau perlambatan ekonomi, melainkan kemampuan perusahaan untuk beradaptasi lebih cepat dibanding perubahan yang terjadi di pasar.
“Di tengah ketidakpastian global, pengusaha yang mampu menjaga efisiensi, mengelola risiko, memperkuat arus kas, serta menangkap peluang baru akan memiliki posisi yang lebih kuat ketika siklus ekonomi kembali membaik,” tegas Agung.(*)
