Unit bisnis yang dimiliki Sritex menjadi Spinning, Weaving, Finishing, dan Garment. Pada tahun 1994, Sritex mulai mengerjakan seragam pesanan pasukan negara-negara di bawah North Atlantic Treaty Organization (NATO).
Sritex berhasil mengantongi sertifikat dari organisasi pakta pertahanan Atlantik Utara itu sehingga pesanan pun mulai berdatangan. Hingga kini, Sritex telah membuat pakaian militer untuk lebih dari 33 negara.
Ditambah dengan kedekatannya dengan Harmoko yang waktu itu adalah Menteri Penerangan di era Soeharto berkuasa.
Sehingga Sritex tambah berkembang maju dan Sritex menjadi ikon penguasa, karena disinyalir berada di bawah perlindungan Keluarga Cendana, sebutan bagi keluarga Soeharto.
.
Di masa Orde Baru, Lukminto beberapa kali menjadi pemegang tender proyek pengadaan seragam yang disponsori pemerintah.
“Di dalam negeri, ketika itu Sritex (tahun 1990-an) menerima orderan seragam batik Korpri, Golkar, dan ABRI,” kata Lukminto kala itu.
Karena itu pula Sritex mendapat keuntungan besar mencapai jutaan rupiah dan dollar, ditambah dengan penguasaannya terhadap pasar garmen di dalam dan luar negeri.
Setelah Soeharto tumbang, pada 2013 Sritex resmi melantai di bursa saham dan mengubah namanya menjadi PT Sri Rejeki Isman Tbk dengan kode emiten (SRIL).
Mereka mengumumkan laba perseroan pada 2012 sebesar 229 miliar rupiah. Capaian itu mengalami peningkatan sebesar 68 miliar rupiah dibanding tahun sebelumnya.
Lukminto berpindah keyakinan menjadi seorang Muslim pada tahun 1995. Ia meninggal dunia pada tahun 2014 di Singapura akibat sakit yang dideritanya.
Kemudian bisnisnya teruskan oleh 5 (lima) anaknya, yakni Vonny Imelda, Iwan Setiawan Lukminto, Lenny Imelda, Iwan Kurniawan, dan Margaret Imelda. (*)
