Sosok

Sritex, Raja Tekstil yang Tengah Karam

×

Sritex, Raja Tekstil yang Tengah Karam

Sebarkan artikel ini
PT Sri Rejeki Isman atau Sritex
Raksasa tekstil Indonesia, PT Sri Rejeki Isman atau Sritex, bak kapal terbentur karang besar mulai tenggelam dan karam

Berdasarkan laporan keuangan per Juni 2024, Sritex memiliki sisa utang Rp101,31 miliar kepada PT IBR atau 0,38% dari total liabilitas Sritex.

Mengutip laman resmi perusahaan, Indo Bharat Rayon didirikan pada 1980 dan mengklaim dirinya sebagai pionir pembuat serat buatan atau viscose staple fibre (VSF) di Indonesia.

Perusahaan ini memiliki pabrik di Purwakarta, Jawa Barat yang mulai produksi secara komersial pada 1986 dengan kapasitas 16.500 tpa. Saat ini utilisasi pabrik tersebut telah mencapai 200.000 tpa.

Adapun PT IBR merupakan bagian dari Aditya Birla Group, perusahaan konglomerasi asal India.

Mengutip laman resmi Adiya Birla, perusahaan tersebut memiliki sejumlah portofolio di Indonesia selain PT IBR, yakni PT Elegant Textile Industry, PT Indo Liberty Textiles, PT Indo Raya Kimia, dan PT Sunrise Bumi Textiles.

Sebagai informasi, di balik keberhasilan Aditya Birla mendirikan konglomerasi ada tangan dingin Ghanshyam Das Birla.

Dia tercatat sebagai pendiri dengan memulai bisnis sebagai pedagang katun. Kemudian bisnisya diperluas ke berbagai sektor seperti, aluminium, semen, hingga industri bahan kimia dan tersebar di 24 negara.

Dari Icon Menjadi Pailit
Sritex sebetulnya bukan perusahaan kaleng-kaleng. Riwayat bisnis tekstilnya sudah malang-melintang lebih dari 50 tahun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *