SosokBerita Utama

Romo Syafi’i, Sosok Inspiratif dari Pengantar Haji ke Kursi Wakil Menteri Agama

×

Romo Syafi’i, Sosok Inspiratif dari Pengantar Haji ke Kursi Wakil Menteri Agama

Sebarkan artikel ini
Romo syafii
Wamenag Dr. KH. Romo H.R Muhammad Syafi’i. (Foto: Humas Kemenag)

KITAINDONESIASATU.COM – Perjalanan hidup seseorang penuh dengan misteri dan kejutan, tidak bisa ditebak, dan tidak bisa direncanakan sepenuhnya. Hal inilah yang dialami Dr. KH. Romo H.R Muhammad Syafi’i, kini menjabat sebagai Wakil Menteri Agama (Wamenag) RI.

Di hadapan ratusan petugas haji di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, Selasa, 13 Mei 2025, dengan suara bergetar Romo Syafi’i mengenang pertama kali ia menginjakkan kaki di Tanah Suci. Kala itu, tahun 1995 di usia 36 tahun.

Ketika itu, Romo Syafi’i bukanlah seorang pejabat maupun tokoh penting, ia hanya seorang pengantar para calon haji dari Medan. Ketika menginjakkan kaki di Tanah Suci, melihat Ka’bah, tangis Romo Syafi’i pecah.

“Saya menangis tersedu-sedu ketika pertama kali melihat Ka’bah,’’ kenangnya menceritakan kisah yang tak bisa dilupakan seumur hidupnya, dikutip laman Kemenag, Selasa.

Tangis saat melihat Ka’bah bukan karena rasa haru dapat menginjakkan diri ke Tanah Suci, namun terbayang kisah perjuangan berat Rasulullah SAW yang penuh dengan tekanan dan penolakan.

“Tangis saya terus berlanjut hingga saat berada di Arafah, juga Muzdalifah,’’ ucapnya dengan mata berkaca-kaca.

Kareana ikhlas sebagai pengantar haji, dan semata-mata mengharap rida Allah SWT, kemudian Romo Syafi’I dipercaya menjadi Wakil Ketua Rombongan (Wakarom). Jabatan yang diamanahkan ini sangat besar, karena melayani puluhan jemaah yang sebagian besar sudah lanjut usia.

Menjabat sebagai Wakarom, Romo Syafi’i tidak hanya duduk diam dan memberi perintah, namun turut juga memanggul koper jemaah haji dan memastikan semua jemaah naik bus di Jeddah, hingga di Makkah dengan selamat.

Bahkan, kala itu suhu di Arab Saudi cukup ekstrem nyaris 50 derajat celcius, dirinya tetap bertugas melayani jemaah, hingga mengalami mimisan. Kondisi tersebut tidak membuat Romo Syafi’i mengeluh karena niatnya untuk melayani jemaah dengan sepenuh hati.

Dengan ketulusan itulah, perjalanan hidup Romo Syafi’i tak berhenti di satu kali haji. Ia diberi kesempatan oleh Allah untuk kembali ke Tanah Suci berkali-kali, dalam berbagai peran dan kapasitas.

Pengalaman spiritual yang ia rasakan selama berhaji menumbuhkan sebuah keyakinan yang kini menjadi filosofi hidup dan pelayanannya: bahwa tidak ada satu pun ucapan, tindakan, atau niat manusia yang luput dari pengawasan Allah.

“Setiap hati kita, perbuatan kita, perkataan kita—semuanya dilihat, dicatat, dan akan dibalas oleh Allah,” ujarnya tegas di hadapan ratusan petugas haji.

Itulah prinsip yang selalu ia pegang, bahkan saat kini menyandang jabatan tinggi sebagai Wamenag. Ia mengaku kerap dianggap terlalu vokal, terlalu berani. Tapi, menurutnya, itu bukan soal keberanian.

“Saya hanya tak bisa menyembunyikan kebenaran. Kebenaran harus ditegakkan,” katanya mantap.

Menjelang akhir sambutannya, suasana kembali syahdu. Romo Syafi’i menatap satu per satu para petugas PPIH yang hadir. Ia tahu, tugas mereka berat. Tapi juga mulia.

“Melayani tamu Allah yang merindu. Lalu kita bantu mereka melepas kerinduan itu untuk bertemu dengan-Nya. Tak semua orang mendapat kesempatan ini,” ucapnya pelan, namun penuh makna.

Lalu ia menambahkan, “Semoga dengan keikhlasan yang Bapak-Ibu tanamkan, Allah akan membalasnya dengan apa yang selama ini menjadi impian kita,” sambung Romo Syafi’i.

Sore itu, banyak mata yang ikut basah. Bukan hanya karena kisah Romo Syafi’i yang menyentuh, tapi karena mereka tahu, jalan menuju ikhlas adalah jalan yang tak selalu mudah. Tapi justru di situlah letak kemuliaannya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *