Sosok

Mbah Jirah dan Sayur Nangka: Sepenggal Cerita dari Perjalanan Gerilya Soedirman

×

Mbah Jirah dan Sayur Nangka: Sepenggal Cerita dari Perjalanan Gerilya Soedirman

Sebarkan artikel ini
SNI TV
Mbah Jirah. {youtube}

KITAINDONESIASATU.COM – Dusun Magersari di Desa Bajulan, Kecamatan Loceret, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, menyimpan kisah heroik yang menjadi bagian penting dari sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Di tempat ini, Jenderal Besar Soedirman pernah singgah selama sembilan hari dalam perjalanan gerilyanya melawan Belanda.

Untuk mengenang peristiwa tersebut, sebuah monumen didirikan di dusun ini.
Namun, yang lebih menarik adalah sosok Mbah Jirah, seorang wanita berusia 110 tahun yang pernah menjadi juru masak Jenderal Soedirman selama masa singgahnya.

Dalam sebuah video yang diunggah kanal YouTube Suryanusantara Indoneseia, tiga tahun silam, Mbah Jirah tampak masih sehat di usianya yang sangat lanjut.

Ia mengenang bagaimana Jenderal Soedirman menjalani kehidupan sederhana di tengah medan perang.

Menurut Mbah Jirah, selama tinggal di rumah seorang warga, sang jenderal tidur hanya beralaskan tikar pandan di atas dipan bambu dan berselimut sarung.

“Tidurnya di dipan bambu, alasnya kloso pandan, selimutnya sarung,” kenangnya.

Selama sembilan hari di Bajulan, Mbah Jirah bertanggung jawab memasak untuk Jenderal Soedirman dan rombongannya yang berjumlah sekitar 60 orang.

Makanan yang disajikan sangat sederhana, sesuai dengan keterbatasan bahan pangan saat itu.

“Makannya hanya nasi dengan sayur nangka muda. Kalau ada santan ya pakai, kalau tidak ada ya biasa saja. Nasinya pun hanya segenggam,” ujarnya.

Berdasarkan catatan dalam buku 693 KM Jejak Gerilya Soedirman, Jenderal Soedirman menempuh perjalanan sejauh 693 km dari Yogyakarta hingga Jawa Timur dalam perang gerilyanya.

Strategi ini dilakukan setelah Yogyakarta, yang kala itu menjadi ibu kota Indonesia, diserang dalam agresi militer Belanda.

Selama gerilya, Soedirman terus menghindari kejaran pasukan Belanda dan melakukan serangan dari jalur-jalur hutan yang sulit diprediksi.

Salah satu daerah yang disinggahinya adalah Kabupaten Nganjuk, tepatnya di rumah seorang warga bernama Kedah. Saat itu, kondisi kesehatan sang jenderal menurun, sehingga ia harus beristirahat selama sembilan hari.

Mbah Jirah masih ingat betul bahwa meskipun dalam keadaan sakit, Jenderal Soedirman tetap rendah hati dan tidak pernah menolak makanan yang disediakan.
“Beliau tidak pernah menolak. Apa pun yang ada di kebun, seperti sayur nangka muda, beliau selalu menyukainya,” kata Mbah Jirah.

Baginya, pengalaman itu menjadi momen paling berharga dalam hidupnya. Ia merasa bangga bisa turut berkontribusi dalam perjuangan kemerdekaan, meski hanya dengan memasak makanan sederhana bagi para pejuang.

Kisah Jenderal Soedirman di Desa Bajulan tidak hanya menunjukkan kesederhanaan seorang pemimpin, tetapi juga menjadi pengingat akan beratnya perjuangan bangsa Indonesia dalam merebut kemerdekaan.- ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *