… lanjutan Siklus Hidup Destinasi
a. Kebangkitan Kembali (Rejuvenation)
Destinasi yang mampu beradaptasi dapat bangkit kembali melalui inovasi dan pembaruan. rejuvenation ini juga sering dikaitkan dengan penerapan prinsip pariwisata berkelanjutan.
b. Stabilisasi (Stabilization)
Beberapa destinasi berhasil menjaga posisinya dengan mempertahankan kualitas pelayanan dan fasilitas tanpa melakukan perubahan besar. Meski tidak mengalami pertumbuhan pesat, kawasan tersebut tetap ramai dikunjungi dan berfungsi secara stabil.
c. Penurunan (Decline)
Sebaliknya, destinasi yang tidak mampu berinovasi akan mengalami penurunan. Daya tariknya berkurang, infrastruktur menurun, dan jumlah wisatawan terus berkurang dari tahun ke tahun. Bahkan bisa mengakibatkan kegagalan total dan berhentinya operasional destinasi di bidang pariwisata.
Bagaimana Agar Desa Wisata Tidak Mencapai Decline/Failure?
Desa wisata merupakan salah satu model pengembangan pariwisata yang cukup populer di Indonesia. Secara teoritis, tata kelola desa wisata dipegang oleh masyarakat desa. Umumnya, pengelola desa wisata dikenal dengan Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata). Namun pada praktiknya, bisa saja pengelolaan juga bisa dilakukan oleh komunitas lain seperti BUMDes, Unit Usaha Pariwisata, LSM, Karang Taruna, UMKM, dan komunitas lainnya yang ada di desa. Berawal dari tata kelola, sifat pengelolaan desa wisata haruslah mendukung prinsip pembangunan berkelanjutan dari sisi ekonomi, sosial-budaya, dan lingkungan.
Secara ekonomi, arah pengembangan desa wisata memberikan lapangan pekerjaan bagi masyarakat, bukan hanya pada level operasional, namun juga pada level manajerial. Keuntungan yang diperoleh juga dapat memutar roda ekonomi sektor lainnya seperti pertanian dengan cara menggunakan bahan lokal daripada impor, sehingga ekonomi yang diarasakan masyarakat secara keseluruhan lebih berkualitas.
Secara sosial-budaya, pemilihan atraksi wisata dapat melestarikan budaya-budaya yang sudah lama terlupakan, namun tetap menjaga kesakralan dari budaya tertentu. Pariwisata yang dianggap sebagai gula dapat dinikmati bersama dengan melibatkan stakeholder yang ada di desa, tanpa ada yang merasa terpinggirkan.
Lalu yang terakhir, secara lingkungan, pengelolaan yang dilakukan haruslah pro terhadap lingkungan. Apabila tidak memperhatikan sampah, limbah, maka dapat mengakibatkan banjir dan overtourism, yang nantinya akan mengarah pada decline. (*)
Referensi: Butler, R. (1980). The concept of the tourist area cycle of evolution: Implications for the evolution of resources. Canadian Geographer, 24(1): 5–12.
