Opini Kita

Pernyataan Tanpa Tindakan: Muhaimin Iskandar Hanya Main-main Soal Alfamart dan Indomart

×

Pernyataan Tanpa Tindakan: Muhaimin Iskandar Hanya Main-main Soal Alfamart dan Indomart

Sebarkan artikel ini
image 90
Menko PM, Muhaimin Iskandar.

Kita tidak butuh Menteri yang hanya mampu mengeluarkan opini. Rakyat butuh pejabat yang berani menegakkan aturan dan melindungi ekonomi rakyat dari predator pasar. Kalau hanya bicara tapi tidak bertindak, maka fungsi pemberdayaan yang diemban kementeriannya menjadi sekadar slogan kosong.

Lebih jauh, kegagalan Muhaimin menunjukkan bahwa pemerintah saat ini tidak memiliki arah jelas dalam membangun ekonomi yang berkeadilan sosial sebagaimana diamanatkan Pasal 33 UUD 1945. Ekonomi rakyat justru semakin tersingkir oleh kekuatan modal besar yang memonopoli pasar dari hulu ke hilir. Di sisi lain, toko tradisional, pasar rakyat, dan koperasi terus merana tanpa dukungan berarti.

Padahal di negara-negara maju, praktik seperti ini dikontrol ketat. Jumlah gerai ritel modern dibatasi, zonasi diatur agar tidak mematikan ekonomi lokal, dan di beberapa negara, monopoli justru hanya diperbolehkan untuk koperasi rakyat, seperti di Singapura dengan NTUC FairPrice. Koperasi ritel disana bahkan dinerikan insentif bebas pajak dan keuntungan dikembalikan kepada anggotanya, bukan dikuras untuk memperkaya segelintir pemegang saham seperti di Indonesia.

Muhaimin seharusnya belajar dari hal ini. Pemberdayaan masyarakat bukan dengan menggelar seminar, wacana, atau pernyataan moral di media, tapi dengan kebijakan nyata yang berpihak. Selama kementeriannya tidak berani menyentuh kepentingan korporasi besar yang telah menguasai ruang ekonomi rakyat, maka semua omongan tentang pemberdayaan hanyalah main-main politik untuk citra.

Kami di AKSES menegaskan, jika Muhaimin benar ingin berpihak pada rakyat, cabut izin ekspansi Alfamart dan Indomaret yang melanggar batas waralaba. Tegakkan kembali Permendag 68/2012. Terapkan pembatasan zonasi agar pasar tradisional bisa hidup kembali. Jangan hanya bicara soal pemberdayaan rakyat, tapi biarkan mereka mati perlahan di depan mata.

Indonesia tidak butuh Menko yang pandai berkata-kata. Indonesia butuh pemimpin yang berani menegakkan keadilan ekonomi, walau harus berhadapan dengan kepentingan besar. Dan sampai hari ini, Muhaimin Iskandar belum menunjukkan keberanian itu. Yang terlihat hanyalah permainan kata tanpa makna. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *