ADA masa ketika suara perempuan hanya beredar pelan, lewat surat, lewat ruang yang sempit, lewat percakapan yang tidak selalu didengar.
Dari situ Raden Ajeng Kartini menulis kegelisahannyatentang sekolah, tentang kebebasan, tentang dunia yang lebih adil bagi perempuan.
Kini, dunia itu berubah bentuk. Bukan lagi kertas dan tinta, melainkan layar kecil yang selalu menyala di genggaman.
Di era digital, gagasan Kartini seperti menemukan jalannya sendiri. Perempuan tidak lagi menunggu ruang dibuka mereka masuk, berbicara, membangun, dan memimpin di ruang yang bahkan tidak punya batas fisik. Dari ruang kelas virtual, dapur rumah yang berubah jadi studio usaha, sampai layar ponsel yang menjadi etalase bisnis.
Namun perubahan ini tidak selalu terasa ringan.
Di balik kemudahan akses informasi dan peluang ekonomi digital, ada juga tekanan baru yang datang tanpa suara komentar yang merendahkan, standar hidup yang dipamerkan tanpa henti, hingga tuntutan untuk selalu terlihat “cukup berhasil” di dunia maya.
Kartini, jika hidup hari ini, mungkin akan menemukan bentuk perjuangannya ikut berubah. Bukan lagi sekadar soal pintu sekolah yang tertutup, tetapi tentang bagaimana perempuan tetap punya ruang aman di tengah dunia yang terlalu bising.
Di sisi lain, digitalisasi juga membuka sesuatu yang dulu hanya bisa dibayangkan. Seorang perempuan muda di desa kini bisa belajar dari universitas luar negeri lewat layar ponsel.
Ibu rumah tangga bisa membangun usaha tanpa harus meninggalkan rumah. Aktivis bisa menggerakkan kepedulian sosial hanya lewat satu unggahan.
Semua itu membuat satu hal menjadi jelas: perjuangan tidak berhenti, hanya berganti medium.
“Habis gelap terbitlah terang,” tulis Kartini dalam suratnya. Tapi di era ini, terang itu kadang terlalu cepat, terlalu banyak, dan justru membuat kita perlu berhenti sejenak untuk memastikan: apakah cahaya itu benar-benar menerangi, atau justru menyilaukan?
Yang tersisa dari Kartini bukan hanya peringatan setiap April. Ia seperti suara yang terus hidup di balik notifikasi, di balik unggahan, di balik percakapan perempuan hari ini tentang keberanian untuk tetap berpikir, tetap bertumbuh, dan tetap bersuara, di dunia yang tidak pernah benar-benar diam.
Penulis: Achmad Suharya CEO Min.co.id





