Sosok Habib Khirzin memang berhak mendapat perhatian serius sang dekan yang sangat mengagumi dan menyayanginya. Karena itu, Damarjati Supadjar merasa berhak dan kewajiban memaksa Mas Habib Khirzin untuk segera menyelesaikan skripsi kesarjanaan di Fakultas Filsafat UGM supaya tidak sampai di drop out dari UGM.
Sebagai wujud penghormatan dan terima kasihnya atas perhatian yang sangat spesial ini, Mas Habib Khirzin pun merasa patut dan perlu mematuhi saran dan permintaan sang Dekan yang sesungguhnya masing-masing mereka telah memposisikan diri sebagai teman — bahkan saudara — lantaran sama-sama sebagai aktivis yang acap bertemu dalam berbagai forum seminar nasional maupun forum internasional.
Realitasnya memang penulis sendiri mengenal Mas Habib Khirzin yang nyaris selalu berada di Kampus Universitas Islam Indonesia, Jl. Tengku Cik Di Tiro No. 1 Yogyakarta. Belakangan setelah mengetahui Mas Habib Khirzin telah menyandang gelar ilmu filsafat, baru penulis paham bila sesungguhnya keberadaannya yang selalu tampak dominan beraktivitas di Kampus UII, semua itu membuktikan jaringan aktivitasnya Mas Habib Khirzin memang melintasi kampus yang ada di Indonesia.
Maka itu, tak heran sesekali dapat diikuti pidato ilmiahnya dari sebuah kampus, atau pesantren di pelosok desa yang sulit dijangkau, namun tidak sedikit suaranya yang lantang dalam nuansa perdamaian yang dilontarkannya dari berbagai negara.




