KITAINDONESIASATU.COM – Perang antara Iran dan Israel kini memberikan dampak besar secara global, apalagi setelah mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan bahwa AS telah melakukan serangan bom ke beberapa titik di Iran. Menanggapi hal itu, Iran dikabarkan menutup Selat Hormuz, sebuah jalur penting dalam distribusi minyak dunia.
Informasi ini pertama kali ramai diperbincangkan setelah akun Twitter @trandingdiary2 membagikan cuitan pada 22 Juni 2025. Dalam unggahannya, dijelaskan bahwa Parlemen Iran telah menyetujui penutupan Selat Hormuz menyusul eskalasi perang dengan Amerika Serikat.
“Nah kan seperti yang diduga jika US ikut perang maka Iran tutup Hormuz, dan terjadilah barusan parlemen Iran telah menyetujui penutupan Selat Hormuz,” ujar akun tersebut.
Cuitan tersebut pun viral dan ditonton lebih dari 1,2 juta pengguna Twitter. Penutupan Selat Hormuz ini diperkirakan berimbas besar terhadap ekonomi global, khususnya sektor energi. Pasalnya, 20-25% pasokan minyak dunia melewati jalur ini. Akibatnya, harga minyak global diprediksi naik sebesar $10-20 per barel, bahkan berpotensi mencapai $100 per barel bila konflik terus memburuk.
Kondisi ini membuat negara-negara pengimpor minyak, termasuk Indonesia yang mengimpor 70% dari kebutuhan minyaknya, berada dalam situasi rawan krisis energi. Hal ini juga berpengaruh langsung terhadap harga bahan pokok dan tekanan pada sektor saham, khususnya perusahaan minyak dan jasa energi.
Beberapa saham energi seperti MEDC, ENRG, APEX, serta jasa oil service seperti ELSA dan ITMA, disebut berpotensi mengalami kenaikan sebagai respons dari naiknya harga minyak akibat penutupan Selat Hormuz.



