KITAINDONESIASATU.COM – Perbatasan Rafah kembali dibuka setelah sembilan bulan ditutup oleh pasukan Israel.
Hal ini memungkinkan puluhan warga Palestina yang sakit dan terluka, termasuk anggota Hamas, untuk menyeberang ke Mesir.
Pembukaan ini terjadi setelah pembebasan tiga sandera pria Israel sebagai bagian dari kesepakatan gencatan senjata di Gaza.
Saluran televisi Mesir menayangkan momen ambulans Palang Merah Palestina yang membawa anak-anak melintasi perbatasan menuju ambulans di sisi Mesir pada Sabtu, 1 Februari 2025.
Diperkirakan sekitar 50 anak akan dievakuasi pada hari itu. Pembukaan Rafah ini merupakan langkah penting dalam implementasi perjanjian gencatan senjata dan merespons tekanan internasional atas penutupan penyeberangan selama sembilan bulan terakhir, yang menghambat akses warga Palestina terhadap perawatan medis.
Pekan sebelumnya, Sekjen PBB António Guterres menyerukan evakuasi 2.500 anak dari Gaza setelah dokter AS memperingatkan bahwa mereka berisiko tinggi meninggal jika tidak segera mendapat perawatan medis.
Pembebasan tiga sandera Israel, termasuk Yarden Bibas yang istrinya dan anak-anaknya masih hilang, berujung pada pelepasan 183 tahanan Palestina dari penjara Israel.
Para tahanan ini tiba di Khan Younis, Gaza Selatan, dengan tiga bus, menandai pertama kalinya tahanan dari Gaza dibebaskan dalam kesepakatan ini.
Kesepakatan gencatan senjata, yang dimulai 19 Januari, bertujuan mengakhiri konflik paling mematikan antara Israel dan Hamas.
Selama hampir dua minggu, kesepakatan ini berhasil menghentikan pertempuran dan mempercepat distribusi bantuan ke Gaza.
Sejauh ini, 17 dari 33 sandera yang dijadwalkan dibebaskan telah kembali, dengan imbalan 400 tahanan Palestina.
Negosiasi tahap kedua akan dimulai Selasa depan, membahas pembebasan lebih dari 60 sandera yang tersisa serta kemungkinan penarikan pasukan Israel dari Gaza.
Namun, pembebasan Yarden Bibas tanpa keluarganya menjadi pukulan emosional bagi banyak warga Israel, yang terus mencari informasi tentang keberadaan istri dan anak-anaknya.
Hamas mengklaim mereka tewas dalam serangan Israel pada 2023, tetapi Israel masih menuntut klarifikasi dari mediator.
Jika tidak ada kesepakatan baru, konflik berisiko kembali meletus pada Maret.
Sementara itu, anak-anak Palestina yang diizinkan menyeberang Rafah bersama keluarga mereka merupakan bagian dari upaya evakuasi medis yang diharapkan berlangsung secara rutin.- ***
Sumber: The Guardian


