KITAINDONESIASATU.COM – Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengumumkan pada Selasa, 27 Agustus 2024, bahwa serangan mendadak yang dilakukan bulan ini ke Rusia adalah bagian dari strategi besar untuk mengakhiri perang di Ukraina.
Zelensky menyebutkan bahwa serangan ini bukan bertujuan untuk mencaplok wilayah secara permanen, melainkan untuk memaksa Rusia menghentikan konfliknya.
Dia akan menjelaskan rencananya kepada Presiden Joe Biden serta calon presiden Kamala Harris dan Donald Trump pada musim gugur ini.
Zelensky mengungkapkan bahwa detil rencana ini belum dapat dibagikan.
Pada 6 Agustus, serangan kilat di wilayah Kursk, termasuk kota Sudzha, berhasil mengangkat semangat warga Ukraina yang merasa frustrasi dengan ketidakmampuan militer mereka dalam merebut kembali wilayah yang hilang dari Rusia.
Namun, ada kekhawatiran mengenai tujuan akhir dari operasi ini dan dampaknya terhadap wilayah timur Ukraina.
Panglima Tertinggi Ukraina Oleksandr Syrsky melaporkan bahwa serangan tersebut berhasil merebut 100 permukiman dan menangkap 594 tentara Rusia, meskipun situasinya masih sulit.
Ukraina telah menguasai sekitar 500 mil persegi di Kursk, namun Rusia telah mengerahkan lebih dari 30.000 tentara ke daerah tersebut, dengan sekitar 50 bentrokan terjadi setiap hari.
Sementara itu, pertempuran paling sengit masih berlangsung di Ukraina timur, terutama di pusat logistik Pokrovsk.
Pada hari Selasa, Ukraina menghadapi serangan pesawat tak berawak dan rudal yang menewaskan tujuh orang dan melukai 47 lainnya, termasuk tiga anak-anak, serta menghancurkan sebuah hotel.
Serangan ini mengikuti serangan sebelumnya yang menewaskan seorang penasihat keamanan dan melukai dua wartawan.
Zelensky mengonfirmasi bahwa Ukraina telah menggunakan jet tempur F-16 untuk menembak jatuh beberapa rudal Rusia.
Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov menolak upaya Ukraina untuk bernegosiasi, sementara Rusia menuduh Ukraina membahayakan pembangkit listrik tenaga nuklir di Kursk.
Direktur Jenderal Badan Tenaga Atom Internasional, Rafael Grossi, mengatakan bahwa situasi di PLTN Kursk mendekati normal, tetapi ada kekhawatiran tentang aktivitas di dekat lokasi tersebut. Rusia juga membuka kasus pidana terhadap wartawan asing yang dilaporkan memasuki wilayah Rusia secara ilegal untuk meliput dari Kursk.- ***
Sumber: The Washington Post


