News

Semeru Kembali Bergolak, Puluhan Gempa Terekam dalam Sehari

×

Semeru Kembali Bergolak, Puluhan Gempa Terekam dalam Sehari

Sebarkan artikel ini
a 6920588e7321d
Dok. Erupsi Gunung Semeru (BPBD Lumajang)

KITAINDONESIASATU.COM – Gunung Semeru kembali menunjukkan aktivitas berbahaya. Gunung tertinggi di Pulau Jawa dengan ketinggian 3.676 meter di atas permukaan laut itu meluncurkan awan panas guguran sejauh 5 kilometer dari puncak pada Rabu (14/1) siang, memicu peringatan serius bagi warga di sekitarnya untuk meningkatkan kewaspadaan.

Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Mukdas Sofian, mengungkapkan bahwa tercatat satu kali gempa awan panas guguran dengan amplitudo mencapai 20 milimeter dan durasi getaran hingga 3.000 detik, menandakan aktivitas vulkanik yang signifikan.

Tak hanya itu, dalam periode pengamatan kegempaan pukul 06.00 hingga 12.00 WIB, aktivitas Semeru terpantau semakin intens. Sebanyak 33 kali gempa letusan atau erupsi terekam dengan amplitudo 15–22 milimeter dan durasi 62–130 detik. Selain itu, terjadi satu kali gempa embusan serta dua kali gempa tektonik jauh, mempertegas bahwa kondisi gunung masih belum stabil.

Mukdas menegaskan, hingga kini Gunung Semeru masih berstatus Siaga (Level III). Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) pun mengeluarkan rekomendasi tegas: masyarakat dilarang melakukan aktivitas apa pun di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan dalam radius 13 kilometer dari puncak.

Tak berhenti di situ, warga juga diminta menjauhi sempadan sungai sejauh 500 meter di sepanjang Besuk Kobokan, karena potensi perluasan awan panas dan aliran lahar yang bisa menjalar hingga 17 kilometer dari puncak. Aktivitas dalam radius 5 kilometer dari kawah Semeru juga dilarang keras karena ancaman lontaran batu pijar yang mematikan.

PVMBG turut mengingatkan bahaya lanjutan berupa awan panas, guguran lava, dan aliran lahar di sepanjang sungai dan lembah yang berhulu di puncak Semeru, khususnya Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, Besuk Sat, hingga anak-anak sungai di sekitarnya.

Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Lumajang, Isnugroho, memastikan awan panas guguran terjadi pada pukul 11.25 WIB dengan amplitudo maksimum 20 milimeter, dan getaran dilaporkan berhenti sekitar pukul 12.15 WIB. Meski demikian, masyarakat diminta tidak lengah karena status siaga masih diberlakukan. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *