…. lanjutan Indonesia Merdeka
Setelah menyelesaikan pelatihan di Purworejo, Margono di terima sebagai pegawai di Dinas Perkreditan Rakyat. Sebulan kemudian, jabatan Margono naik dan menduduki jabatan yang hanya di jabat oleh orang Belanda di Madiun.
Dari Madiun ia di pindahkan ke Malang dan pada tahun 1930 di pindahkan ke Jakarta bekerja di kantor besar Algemene Volkscredietbank. Di kantor yang baru, Margono bertugas membantu mengatur Jawatan Koperasi yang baru di ciptakan saat itu.
Keberhasilan Margono dalam tugasnya membuat pejabat Hindia Belanda mengirimnya ke Belanda untuk membantu pada Kementerian Urusan Jajahan tahun 1937. Margono menduduki jabatan pada bagian urusan kesejahteraan yang tugas khususnya adalah mempelajari berbagai laporan dari Pemerintah Hindia Belanda.
Setelah mengemban tugas di Belanda, kemudian Departemen Urusan Ekonomi Hindia Belanda memanggilnya pulang karena keterbatasan tenaga. Pekerjaan ini ia emban hingga Indonesia di duduki oleh Jepang pada tahun 1942.
Pegawai Shomin Ginko
Ketika Moh Hatta di bebaskan dari pengasingan di Banda Neire, Hatta memanggil Margono untuk bekerja di kantor koperasi yang di pimpin oleh Hatta. Pemanggilan Margono karena ilmunya tentang koperasi dan perkreditan rakyat telah mumpuni. Bekerja dengan nasionalis seperti Hatta memupuk jiwa nasionalis Margono. Akan tetapi, Margono tidak lama bekerja dengan Hatta.
Setelah pemerintah Jepang mengganti dinas Volkscredietbank dengan Shomin Ginko (Bank Rakyat), Margono tidak hanya mengurusi masalah perkreditan. Akan tetapi juga mengurusi masalah pangan seperti penyimpanan bahan makanan atau mengurusi lumbung makanan dari petani.
Tidak lama menjabat sebagai pegawai di Shomin Ginko, Margono di minta untuk membantu Mangkunegara VII untuk bekerja kepada Keraton Mangkunegaran guna membentuk Departemen Perekonomian. Tugas yang di emban ketika bekerja di Keraton Mangkunegaran adalah penyediaan bahan makanan, penyuluhan terhadap petani, mengurus jawatan peternakan, dan mengawasi rumah-rumah gadai.
Bertugas mengawasi penyediaan bahan makanan masa Jepang adalah hal yang sangat berat, karena banyak hasil pertanian rakyat yang harus di serahkan kepada Jepang. Atas dasar itu, Margono kemudian memanipulasi pasukan Jepang terkait hasil pertanian agar rakyat tetap aman persediaan bahan makanannya. Pada Juli 1945, atas usul Hatta, Margono kembali dipanggil ke Jakarta untuk bekerja pada kantor pusat pengawasan bahan makanan bersama dengan Mr. A.K. Pringgodigdo. Pekerjaan ini berlanjut hingga Jepang menyerah dan Indonesia memproklamirkan kemerdekaan.




