KITAINDONESIASATU.COM – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyiapkan mega proyek baru di lahan bekas kantor Lurah Rawa Buaya, Cengkareng, Jakarta Barat. Nantinya, kawasan tersebut bakal disulap jadi rumah susun modern, taman hijau, dan sekretariat RW baru.
Namun di balik rencana megah itu, muncul gelombang protes pedagang kecil. Kios-kios yang berdiri di atas lahan eks kantor lurah kini diminta angkat kaki dalam hitungan hari.
“Iya, mereka kami minta pindah. Kios-kios yang berdiri di atas lahan milik Pemda harus dikosongkan,” ujar Camat Cengkareng, Ahmad Faqih, Rabu (12/11).
Ahmad menegaskan, bahwa tidak semua kios terkena gusur. Hanya lapak-lapak yang berdiri di tanah milik Pemda yang ditertibkan. Sementara kios di sepanjang Jalan Darma Wanita I milik pribadi tidak tersentuh.
Meski begitu, para pedagang mengaku kecewa dan bingung karena Pemprov tidak menyediakan lokasi relokasi baru. Mereka diminta pindah mandiri tanpa bantuan tempat usaha pengganti.
Salah satu pedagang bengkel, Rahmat (39), bahkan mengaku menolak tawaran pindah ke lokasi binaan (lokbin) di area rumah susun. Alasannya?
“Di atas kagak hidup. Siapa yang mau naik cuma buat bengkel? Enggak bakal ada pelanggan,” ujarnya.
Rahmat juga menuding lokasi baru rawan pungutan liar (pungli) dan biaya iuran yang lebih tinggi.
“Dulu pernah pindah ke situ, udah bayar lewat Bank DKI tapi masih ditagih lagi. Enggak kuat, banyak punglinya,” bebernya.
Kini, Rahmat memilih tetap bertahan di kios milik keluarganya yang berdiri di atas tanah girik dan aman dari penggusuran. (*)


