Menurut pemerintah, kekerasan terjadi di sekitar 158 sekolah. Bentrokan dilaporkan melibatkan pelemparan benda ke arah aparat serta insiden yang turut menyasar guru, jurnalis, dan orang yang berada di sekitar lokasi.
Pemerintah Prancis kemudian menggambarkan sebagian aksi tersebut sebagai bentuk kerusuhan perkotaan, berbeda dari tuntutan awal pelajar yang berkaitan dengan kondisi sekolah.
Tuntutan Pelajar Berawal dari Masalah Pendidikan
Di balik meningkatnya ketegangan, sejumlah tuntutan pelajar tetap berkaitan dengan persoalan yang mereka alami di sekolah.
Mereka mempersoalkan jumlah guru yang tidak mencukupi, kelas yang terlalu penuh, fasilitas pendidikan yang membutuhkan perbaikan, serta beban jadwal belajar. Kekhawatiran mengenai masa depan dan sistem pendidikan tinggi juga ikut muncul dalam rangkaian aksi.
Gerakan tersebut juga mendapat perhatian dari guru dan orang tua. Sebagian dari mereka mendukung tuntutan mengenai perbaikan kondisi pendidikan, meski kekerasan, pembakaran, dan perusakan fasilitas mendapat kecaman.
Menteri Pendidikan Prancis Edouard Geffray sebelumnya mengakui adanya tuntutan yang dinilai sah. Pemerintah juga berupaya membuka ruang dialog dengan organisasi pelajar, guru, dan perwakilan orang tua.





