Ia mencontohkan, berbagai daerah di Indonesia mengenal simbol perempuan sebagai pelindung alam. Misalnya sosok Nyi Roro Kidul di Jawa Tengah, Sunan Ambu di masyarakat Sunda, Jawa Barat, Putri Mandalika di Suku Sasak NTB. Sementara orang Batak menyebutnya Siboru Biding Laut, Ina Kabuki di Maluku, Ina Lefa di NTT hingga Ratu Niyang Sakti di Bali.
“Artinya, kebudayaan kita sejak lama memposisikan perempuan pada kedudukan mulia: sebagai pelindung, pengayom, dan penjaga keseimbangan alam,” ujarnya.
Rangkaian kegiatan yang dimoderatori Peneliti The Lead Institute, Maya Fransiska S.Ag menghadirkan pemaparan materi lintas disiplin dari akademisi, praktisi, hingga aktivis. Pakar Gender Rumtini Ikhsan, Ph.D., menyoroti keterhubungan erat antara krisis iklim dan ketidaksetaraan gender. Ia mengingatkan bahwa beban perempuan akan semakin berat ketika lingkungan rusak.
“Perempuan menghadapi beban ganda ketika lingkungan rusak, tetapi sekaligus punya kapasitas besar untuk memimpin perubahan. Mengatasi krisis iklim berarti juga memperkuat kesetaraan gender,” jelasnya.
Dr. Sunaryo, dosen Universitas Paramadina, mengangkat ekoteologi sebagai perspektif etis dalam menjaga lingkungan. Ia menegaskan bahwa spiritualitas dapat menjadi energi perubahan. “Ekoteologi mengajarkan bahwa menjaga alam bukan hanya kewajiban ekologis, tetapi juga kewajiban spiritual. Mengurangi sampah, merawat air, dan mengelola energi adalah bagian dari ibadah,” ujarnya.
Aspek transisi energi dipaparkan oleh pakar energi Prayitno Prayogo, ST., MBA. menampilkan inovasi Sustainable Aviation Fuel berbahan baku minyak jelantah. “Energi masa depan harus berkelanjutan. Indonesia punya potensi besar dari sumber daya yang sering kita anggap limbah, seperti minyak goreng bekas. Ini bukan hanya solusi energi, tetapi juga solusi lingkungan,” paparnya.
Sementara itu, akademisi Universitas Paramadina Dr. Ica Wulansari mengungkapkan hasil penelitiannya tentang dampak perubahan ekosistem laut berdasarkan kesaksian masyarakat di Pulau Tidung. “Dulu ikan mudah ditangkap di sekitar pesisir. Sekarang banyak jenis biota yang hilang, dan masyarakat merasakan langsung dampaknya pada penghidupan mereka,” ungkapnya.
Dari sisi ekologi pesisir, Pakar Mangrove Hani Djoko, S.Si., M.Si. menjelaskan manfaat rehabilitasi mangrove, tidak hanya secara ekologis tetapi juga secara ekonomi. “Mangrove adalah benteng alami dari abrasi sekaligus sumber ekonomi baru. Dari buah, daun, hingga kayu, semua bisa diolah menjadi produk bernilai tambah bagi masyarakat pesisir,” terangnya.
Kontribusi pendidikan diwakili oleh Mozayanah, S.Pd., M.Pd., guru SMKN 61 Jakarta, memaparkan upaya pengelolaan sampah berbasis sekolah. “Anak-anak kami belajar mengolah sampah organik menjadi kompos. Dengan begitu, mereka tidak hanya peduli pada lingkungan, tapi juga menghasilkan produk yang bisa digunakan sendiri atau dijual,” katanya.
Dari perspektif komunikasi publik, praktisi digital Suandri Ansah menekankan pentingnya digital promotion dan branding untuk memperkuat suara perempuan pesisir. “Branding bukan sekadar soal visual. Ia merekam cerita. Kisah sederhana para petani kangkung atau nelayan bisa menjadi identitas yang kuat ketika dipromosikan secara digital,” jelasnya.





