News

Pemerintah Ingatkan Bulan Desember 2024 Hingga Februari 2025 Puncak Bencana Hidrometeorologi

×

Pemerintah Ingatkan Bulan Desember 2024 Hingga Februari 2025 Puncak Bencana Hidrometeorologi

Sebarkan artikel ini
BANJIR MOJOKERTO3
Banjir semakin parah di sebagian wilayah di Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto, Rabu (11/12/2024). foto: tangkapan layar

KITAINDONESIASATU.COM – Pemerintah melalui Menko PMK Pratikno mengingatkan jika puncak bencana hidrometeorologi akan terjadi pada bulan Desember 2024 hingga bulan Februari 2025 sebagai puncak bencana hidrometeorologi di Indonesia.

Pesan mendalam Menko PMK Prayitno disampaikan pada Musyawarah Nasional (Munas) XXII Palang Merah Indonesia (PMI) di Hotel Grand Sahid Jaya Sudirman, Jakarta, Senin (9/12/2024).

Setelah pendemi Covid-19, kini Indonesia menghadapi berbagai bencana secara berturut-turut, baik bencana alam maupun bencana non alam.

Dikatakan Pratikno belum lama ini masyarakat di NTT mengalami adanya erupsi gunung dan konflik sosial, yang membakar 52 rumah dan menewaskan satu orang.

Baca Juga  BMKG Terbitkan Peringatan Dini: Cuaca Ekstrem Melanda Indonesia Hari Ini

BANJIR MOJOKERTO SEMAKIN PARAH – Banjir Mojokerto Parah, Desa Tempuran Sooko Lumpuh Warga Mengungsi Listrik Padam

Dan selanjutnya terjadi ancaman bencana hidrometeorologi yang terjadi beberapa wailayah di Indonesia, puncaknya diperkirakan terjadi pada Desember 2024 dan Februari 2025.

Perubahan iklim yang semakin memperbesar risiko bencana alam, oleh karena itu, pemerintah terus memperkuat mitigasi dan respons cepat, termasuk melalui dukungan dari BNPB dan Kementerian Sosial.

Pratikno mengapresiasi keterlibatan PMI yang selalu hadir mendukung penanganan darurat bencana, termasuk penyediaan tenda pengungsian di lokasi terdampak.

Baca Juga  Kerap Jadi Lokasi Prostitusi, Tempat Kos Dirazia Pemerintah Desa

Selain bencana alam, Menko PMK juga menyoroti bencana non alam lainnya, seperti stunting dan tingginya angka kematian akibat penyakit menular, yang memerlukan perhatian serius dari seluruh pihak untuk segera ditangani.

“Kematian akibat penyakit menular jauh lebih besar daripada COVID-19. Ini menjadi perhatian utama kita bersama,” ujar Pratikno.

Tidak hanya itu, Pratikno menekankan pentingnya pendidikan kemanusiaan sebagai bagian dari upaya revolusi mental.

Ia mengusulkan agar pendidikan tentang kemanusiaan, seperti yang dilakukan oleh PMI, diintegrasikan ke dalam kegiatan ekstrakurikuler di sekolah-sekolah.

“Kita harus mendidik anak-anak agar memiliki rasa kemanusiaan yang tinggi,” tegasnya. (*/ANO)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *