KITAINDONESIASATU.COM – Pemerintah Indonesia menegaskan komitmennya dalam menjaga ketersediaan energi agar tetap stabil dan dapat diakses dengan harga yang terjangkau oleh masyarakat.
Upaya Pemerintah Indonesia ini juga dibarengi dengan langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor energi melalui penguatan kapasitas produksi dalam negeri.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyampaikan bahwa ketahanan energi tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan, tetapi juga menyangkut kemandirian serta keberlanjutan ekonomi nasional.
Oleh karena itu, pemerintah terus berupaya memastikan distribusi energi berjalan lancar sekaligus menjaga daya beli masyarakat.
Strategi Pemerintah Indonesia Kurangi Impor dan Perkuat Energi Domestik
Salah satu langkah yang dilakukan adalah pengembangan substitusi LPG melalui pemanfaatan batu bara menjadi dimethyl ether (DME).
Program ini diharapkan mampu mengurangi impor secara bertahap, meskipun membutuhkan waktu dan investasi yang tidak sedikit.
Selain itu, peningkatan kapasitas kilang dalam negeri, termasuk di Balikpapan, serta penerapan program biodiesel telah memberikan hasil signifikan, seperti penghentian impor solar.
Meski demikian, ketergantungan terhadap impor bensin dan LPG masih menjadi tantangan yang harus diatasi.
Saat ini, kebutuhan minyak nasional mencapai sekitar 1,6 juta barel per hari, sementara produksi dalam negeri baru memenuhi sebagian dari jumlah tersebut.
Kondisi ini membuat Indonesia masih mengandalkan pasokan dari luar negeri, termasuk melalui jalur strategis yang dipengaruhi situasi geopolitik global.
Untuk memperkuat ketahanan energi, pemerintah juga mendorong kebijakan campuran bahan bakar nabati hingga 50 persen.
Kebijakan ini diyakini mampu mengurangi konsumsi bahan bakar fosil sekaligus meningkatkan efisiensi anggaran negara dalam jangka panjang.(*)

