KITAINDONESIASATU.COM – Civitas Akademika Universitas Paramadina menyampaikan keprihatinan mendalam atas kondisi kebangsaan yang belakangan ini ditandai dengan krisis moral, merosotnya etika publik, serta melemahnya sendi-sendi negara hukum dan demokrasi.
Mereka menilai demonstrasi pada 25, 28, dan 29 Agustus 2025 merupakan bentuk aspirasi rakyat yang seharusnya dihormati. “Sudah selayaknyalah dijaga dan diperlakukan sebagai anak bangsa yang sedang mengadukan nasibnya,” demikian bunyi pernyataan tersebut.
Wakil Rektor Bidang Kerja Sama Universitas Paramadina, Handi Risza, menyoroti kemerosotan moral pejabat publik yang tercermin dalam penyalahgunaan wewenang, gaya hidup elitis, dan minimnya akuntabilitas.
“Jabatan publik seharusnya dimaknai sebagai amanah luhur, bukan sarana memperkaya diri dan memperluas jaringan kekuasaan. Ketika moralitas terdegradasi, kepercayaan rakyat pun tergerus,” ujarnya Senin (1/9/2025)
Direktur Eksekutif Paramadina Institute for Ethics and Civilization (PIEC), Pipip A. Rifa’i Hasan, menambahkan praktik politik saat ini kian terjebak dalam transaksi kepentingan jangka pendek. Menurut dia, politik kehilangan etika karena koalisi hanya dibangun berdasarkan pembagian kursi dan akses sumber daya.
“Politik yang kehilangan etika pada akhirnya hanya memperkuat oligarki, melemahkan demokrasi, dan mematikan partisipasi rakyat,” kata Pipip.
Selain soal moralitas politik, Civitas Akademika Paramadina juga menyoroti lemahnya penegakan hukum. Mereka menilai hukum kehilangan wibawa akibat praktik tebang pilih, sekaligus melahirkan demoralisasi masyarakat, terutama generasi muda.
“Krisis moral pejabat publik berimplikasi langsung pada merosotnya kewibawaan hukum. Hukum kerap diperlakukan sebagai instrumen kekuasaan, bukan keadilan,” bunyi pernyataan itu.
Mereka juga menekankan persoalan ketimpangan ekonomi yang makin nyata. Distribusi kekayaan dinilai timpang karena pembangunan lebih berpihak pada kelompok tertentu, sehingga akses pendidikan, kesehatan, dan pekerjaan kian terbatas bagi masyarakat luas.

