KITAINDONESIASATU.COM – Pemimpin oposisi Venezuela, María Corina Machado, diculik oleh pejabat rezim Nicolás Maduro pada Kamis, 9 Januari 2025.
Machado, yang telah bersembunyi selama lebih dari empat bulan sejak pemilu 28 Juli 2024, tampil di tengah demonstrasi untuk menentang pelantikan Maduro sebagai presiden untuk masa jabatan ketiga, meski ada tuduhan kecurangan pemilu.
Ia memimpin protes dengan semangat, menyerukan keberanian rakyat Venezuela.
Namun, saat meninggalkan aksi tersebut, Machado dilaporkan “diculik” oleh aparat rezim.
Menurut perwakilannya, ia terjatuh dari sepeda motor sebelum dibawa secara paksa dan dipaksa merekam sejumlah video. Penahanan ini memicu kecaman dari berbagai pihak internasional, termasuk pemimpin negara-negara seperti Panama, Kolombia, dan Argentina, yang mengecam tindakan represif rezim Maduro.
Edmundo González, kandidat oposisi yang mengklaim memenangkan pemilu, menuntut pembebasan Machado dan memperingatkan pasukan keamanan agar tidak bertindak berlebihan.
Machado akhirnya dibebaskan tiga jam setelah insiden tersebut. Ia direncanakan akan berbicara kepada publik untuk menjelaskan situasinya.
Sementara itu, media pro-rezim menyebut dugaan penculikan ini sebagai taktik oposisi, bahkan merilis video yang memperlihatkan Machado dalam kondisi aman, meskipun keasliannya diragukan.
Penangkapan ini terjadi di tengah situasi keamanan yang tegang di Venezuela. Rezim Maduro terus memperketat kontrol melalui intimidasi dan penindasan.
Analis politik melihat tindakan terhadap Machado sebagai langkah untuk mengintimidasi oposisi, meski berisiko meningkatkan ketegangan. Machado sendiri sebelumnya menyatakan bahwa rakyat Venezuela harus mengatasi rasa takut untuk melawan penindasan rezim.
Situasi ini menambah kompleksitas krisis politik di Venezuela. Maduro tetap mempertahankan dukungan dari militer dan polisi, sementara oposisi berusaha menggalang kekuatan rakyat untuk menantang pemerintahannya.- ***
Sumber: The Guardian


