Penangkapan terbaru pada 17 November 2025 mengamankan dua perekrut utama dari Sumatera Barat dan Jawa Tengah.
Pendekatan berlapis
Para pelaku tersebut terbukti melakukan pendekatan berlapis untuk menggiring anak-anak masuk jaringan teror dan bahkan mengarahkan mereka pada rencana aksi teror.
Brigjen Trunoyudo menjelaskan bahwa propaganda kini dikemas lebih halus dan dekat dengan dunia anak.
“Konten pendek, animasi, meme, sampai musik mereka gunakan untuk menarik perhatian. Mereka memanfaatkan rasa ingin tahu, kondisi bullying, keluarga bermasalah, hingga kebutuhan identitas diri,” katanya.
Upaya penyebaran biasanya bermula dari platform terbuka seperti Facebook, Instagram, atau game online, lalu diarahkan ke percakapan pribadi via WhatsApp atau Telegram.


