News

Muktamar NU ke-35 di Depan Mata, Lukman Hakim Ingatkan Bahaya Jual Beli Suara

×

Muktamar NU ke-35 di Depan Mata, Lukman Hakim Ingatkan Bahaya Jual Beli Suara

Sebarkan artikel ini
Lukman Hakim Saifuddin.
Ketua Forum Konstitusi, Lukman Hakim Saifuddin. (Ist)

KITAINDONESIASATU.COM – Menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Jombang, pesan penting disampaikan mantan Menteri Agama (Menag), Lukman Hakim Saifuddin. Ia menyerukan agar NU tetap berpegang pada nilai Ahlus Sunnah Wal Jamaah (Aswaja) sekaligus semakin kuat menghadapi perubahan zaman.

Dalam pandangannya, perjuangan NU pada abad kedua harus tetap berorientasi pada kemaslahatan bersama dan pembangunan peradaban. Perkhidmatan NU, menurut Lukman, setidaknya harus mencakup lima bidang utama, yakni merawat kemanusiaan, menegakkan keadilan, meningkatkan kualitas pendidikan dan kesehatan, memperkuat ekonomi serta kehidupan sosial masyarakat, dan menjaga budaya, lingkungan hidup, serta kehidupan kebangsaan yang demokratis.

Pesan tersebut dituangkan Lukman dalam tulisan berjudul “Pesan dan Harapan Warga NU Biasa kepada Muktamar ke-35 NU di Jombang”. Ia berharap lima poin tersebut dapat menjadi perhatian seluruh jajaran pengurus NU dalam menjalankan organisasi ke depan.

  1. NU Diminta Tak Kehilangan Akar Aswaja

Lukman mengingatkan agar jam’iyyah dan jamaah NU tidak tercerabut dari nilai keaswajaan dan ke-NU-an. Setiap langkah organisasi harus tetap berlandaskan rujukan dasar NU, termasuk Muqaddimah Al-Qanun Al-Asasi NU, Statoeten NU 1926, Khittah NU 1926, serta Penetapan Kembali ke Khittah NU 1984.

Menurutnya, prinsip-prinsip tersebut penting menjadi pijakan NU dalam menghadapi dinamika kehidupan masyarakat yang terus berubah.

  1. NU Harus Adaptif Hadapi Era AI

Memasuki abad kedua perkhidmatannya, Lukman menilai tanggung jawab NU semakin besar, baik di tingkat nasional maupun global.

NU dituntut mampu mengawal masa depan Islam Indonesia dan dunia di tengah masyarakat yang semakin urban, terdidik, muda, terdigitalisasi, dan memiliki wawasan global.

Perubahan teknologi, termasuk perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), juga disebut menuntut NU melakukan adaptasi dalam pola dakwah, penguatan kemandirian ekonomi, ketahanan budaya, hingga pelestarian lingkungan hidup.

  1. NU Diminta Tetap Berjarak dengan Pemerintah dan Partai Politik

Salah satu pesan paling tegas Lukman berkaitan dengan hubungan NU dengan negara dan pemerintahan. Ia menilai NU tidak boleh terlalu dekat hingga melekat dengan pemerintah, tetapi juga tidak boleh terlalu jauh hingga terpisah dari negara.

Hubungan NU dan pemerintah, menurutnya, harus dibangun atas prinsip saling membutuhkan sekaligus saling mengimbangi dan mengontrol.

NU diharapkan tetap menjalankan peran sebagai bagian dari kekuatan masyarakat sipil yang kritis terhadap berbagai persoalan kebangsaan. Di antaranya pelanggaran HAM, kebebasan pers, praktik otoritarianisme, militerisasi ranah sipil, kerusakan lingkungan, pengangguran, serta ketimpangan sosial dan ekonomi.

Hal serupa juga berlaku terhadap partai politik. Lukman menegaskan NU harus mampu berdiri pada posisi yang berjarak sama dengan seluruh partai politik.

  1. Kemandirian Keuangan NU Jadi Sorotan

Lukman juga mendorong NU memperkuat kemandirian keuangan. Penghimpunan dan pengelolaan dana organisasi harus dilakukan secara profesional, transparan, serta akuntabel.

Sistem pengelolaan keuangan tersebut, menurutnya, perlu mempertimbangkan keberagaman sumber daya alam dan sumber daya manusia di setiap daerah.

Dalam konteks ini, Lukman secara khusus mengingatkan agar pengelolaan izin usaha pertambangan yang justru menimbulkan fitnah dan mafsadah ditinggalkan.

  1. Tolak Keras Praktik Jual Beli Suara di Muktamar

Pesan paling tajam Lukman diarahkan pada proses pelaksanaan Muktamar ke-35 NU. Ia mengingatkan seluruh kandidat, pengurus, dan pemilik suara agar menjunjung tinggi integritas, kejujuran, moral, etika, serta akhlak mulia.

Ia menegaskan, bahwa proses yang baik akan menentukan kualitas hasil akhir. Karena itu, seluruh tahapan Muktamar harus dijalankan secara beradab.

Lukman juga secara terbuka menyerukan agar setiap kandidat dan pemilik suara menolak serta memerangi praktik jual beli suara.

Menurutnya, proses pemilihan dalam Muktamar tidak boleh dikotori kepentingan transaksional yang bertentangan dengan nilai-nilai NU.

“Setiap tahapan proses dalam Muktamar hendaknya dilakukan muktamirin dengan menerapkan akhlak mulia berkeadaban,” tulis Lukman.

Di akhir pesannya, Lukman berharap Muktamar ke-35 NU di Jombang dapat berlangsung lancar dengan menjunjung tinggi adab dan menghasilkan keputusan terbaik bagi kemaslahatan bangsa Indonesia. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *