News

Menteri Satryo Soemantri Didemo Anak Buah, Ini Profil dan Sosoknya

×

Menteri Satryo Soemantri Didemo Anak Buah, Ini Profil dan Sosoknya

Sebarkan artikel ini
sa
Mendiktisaintek, Satryo Soemantri Brodjonegoro. (Tangkapan Layar YouTube Climate Rality)

KITAINDONESIASATU.COM – Ada yang heboh terjadi di Kantor Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemenditi Saintek) pada Senin, 20 Januari 2025. Sejumlah Aparatur Sipil Negara Kemendikti Saintek menggelar aksi demo atas perlakuan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendikti Saintek), Satryo Soemantri Brojonegoro, yang diduga berlaku zalim dan memperlakukan anak buah seperti babu.

Spanduk dibentangkan sejumlah ASN bertuliskan nada satir ditujukan langsung kepada Menteri Soemantri. Tulisan itu berbunyi ‘”Institusi Negara bukan perusahaan pribadi Satryo dan istri”. Tulisan lainnya, “Kami dibayar oleh negara, bekerja untuk negara bukan babu keluarga”.

Profil Satryo Soemantri Brojonegoro

Satrio Soemantri merupakan jebolan Institut Teknologi Bandung (ITB). Pria kelahiran Belanda berusia 60 tahun itu adalah seorang akademisi. Gelar doktor dan PhD didapatkannya di luar negeri.

Gelar doktor bidang teknik mesin dari Universitas Tokyo, Jepang, dan gelar PhD dari Universitas of California, Barkeley, Amerika Serikat (AS). Di Jepang, ia aktif sebagai dosen tamu di bidang teknik mesin Toyohashi University of Technology, Jepang. Pun sama menjadi dosen tamu di ITB.

Ia bukan lah orang baru di lingkungan Kementerian Pendidikan. Ia pernah menjabat sebagai Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti) periode 1999-2007. Ia juga pernah menjabat sebagai Ketua Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) selama 2018-2023.

Sampai saat ini setidaknya ia telah menerbitkan total 99 publikasi ilmiah. Saat menjabat sebagai Ditjen Dikti, ia mencetuskan konsep Badan Hukum Milik Negara (BHMN) atau sekarang dikenal sebagai Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTN BH).

Tidak sampai di situ saja, Satryo Soemantri juga menggagas program unggulan World Class university pada 2009 silam. Program yang diluncurkan Kemendikbud itu bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan tinggi, penelitian dan daya saing universitas-universitas di Indonesia di dunia.

Program tersebut dinilai sukses atas rangking jumlah publikasi di jurnal internasional dan jaringan kolaborasi internasional. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *