Bakal Bersanding dengan Paus Leo XIV
Pertemuan Assisi 2026 memiliki arti khusus karena bertepatan dengan peringatan 40 tahun Hari Doa Sedunia untuk Perdamaian yang pertama kali dicetuskan Paus Yohanes Paulus II pada 1986.
Rangkaian kegiatan tersebut mencakup 24 forum tematik yang membahas berbagai persoalan perdamaian. Agenda ini dijadwalkan ditutup melalui upacara perdamaian bersama Paus Leo XIV, pemimpin Gereja Katolik sedunia.
Pemerintah Indonesia memandang keikutsertaan Nasaruddin sebagai kesempatan untuk kembali menegaskan peran Indonesia dalam mendorong dialog antaragama dan penyelesaian konflik tanpa kekerasan.
Adiyarto Sumardjono menjelaskan, dalam rangkaian agenda di Italia dan Vatikan, Nasaruddin juga dijadwalkan bertemu dengan Menteri Luar Negeri Takhta Suci Vatikan.
Pertemuan itu akan membahas peluang kerja sama antarnegara, terutama dalam penguatan dialog lintas agama atau interfaith dialogue. Pemerintah Indonesia juga akan menyampaikan keinginan untuk mengundang Paus Leo XIV berkunjung ke Indonesia agar dapat melihat secara langsung kehidupan masyarakat yang beragam serta perkembangan kehidupan beragama di tanah air.
Selain agenda diplomasi, Nasaruddin juga dijadwalkan membahas kerja sama dengan PISAI (Pontificio Istituto di Studi Arabi e d’Islamistica), lembaga kepausan yang berfokus pada kajian Arab dan Islam.
Menurut Adiyarto, lembaga tersebut memiliki perhatian pada kajian teologi, budaya Arab, serta dialog antara umat Islam dan Kristen. PISAI juga dikenal memiliki koleksi perpustakaan berupa naskah dan kitab-kitab Islam dalam jumlah besar.
Kerja sama tersebut diharapkan dapat membuka ruang pertukaran pengetahuan sekaligus memperkuat pemahaman lintas agama di tingkat internasional.
Melalui rangkaian agenda di Assisi, Roma, dan Vatikan, Indonesia ingin menegaskan bahwa diplomasi keagamaan bukan sekadar simbol hubungan antarnegara. Lebih dari itu, dialog, toleransi, dan kerja sama kemanusiaan diharapkan menjadi jalan nyata untuk merespons konflik dunia yang masih terus berlangsung. (*)





