KITAINDONESIASATU.COM – Meninggalnya 5 calon manajer Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) dalam Latihan Dasar Kemiliteran (Latsarmil) yang tergabung dalam Program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) 2026 anggota Komisi I DPR-RI mendesak mengentikan Latsarmil.
Latsarmil digelar oleh Kementerian Pertahanan (Kemenhan) digelar untuk membentuk karakter, disiplin, kepemimpinan, dan integritas profesional.
Pelatihan ini juga dirancang untuk menumbuhkan semangat bela negara, loyalitas, dan kerja sama serta Menumbuhkan rasa pengabdian dan dedikasi yang tinggi terhadap visi dan misi kesejahteraan bangsa.
Namun dalam pelatihan itu yang digelar selama 45 hari itu dalam perjalanannya ada beberapa peserta yang meninggal dunia selama mengikuti dasar kemiliteran tersebut.
Menurut informasi ada 5 orang peserta yang meninggal teridentifikasi bernama Nola Dya Sari mengikuti Lastsarmil di Pusat Pendidikan Dudik Bela Negara Kalimatan.
Sementara empat peserta lainnya adalah Yohanda Muhammad Taufiq pada 17 Juni 2026, Anisa Muyassaroh pada 18 Juni 2026, Novia Rahmadhani Sihotang 22 JUni 2026 dan Muhammad Rifki Renaldi Gunawan meninggal pada 25 Juni 2026.
Anggota Komisi I DPR-RI, Oleh Soleh dalam keterangan tertulis mengatakan peristiwa itu merupakan masalah serius jangan dianggap enteng itu nyawa manusia.
“Oleh karena itu saya mendesak Kementerian Pertahanan untuk menghentikan sementara pelaksanaan Latsarmil dan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap program tersebut,” ujar Oleh Soleh dalam keterangan tertulis kepada wartawan di Jakarta, Minggu (28/6/2026).
Polistisi Fraksi PKB ini mengatakan mereka adalah anak-anak bangsa yang berjuang untuk mendukung keberhasilkan Kopdes Merah Putih dengan mendaftar sebagai calon manajer.
Sehingga setiap kejadian yang menyebabkan hilangnya nyawa harus menjadi perhatian serius dan tidak boleh dianggap sebagai hal biasa.
Oleh karena itu latihan dasar yang digelar harus melakukan pendekatan yang sesuai dengan latar belakang peserta yang notabene hanya masyarakat sipil bukan prajurit militer.
Oleh karena itu harus ada evaluasi dan perbaikan total terhadap pola pembinaan dan pelatihan yang diberikan, seperti pelatihan fisik dilakukan tidak boleh terlalu berat.
“Mereka bukan tentara dan tentu kemampuan fisiknya tidak sama dengan prajurit yang telah menjalani pendidikan kemiliteran,” katanya.
Salah satu calon manajer KDMP yang meninggal adalah Anisa Muassaroh merupakan lulusan Unair ia meninggal saat mengikuti pelatihan di RIndam VI Mulawarman Balikpapan, sebelum meninggal sempat mengalami gangguan kesehatan.
Menurut Karo Infohan Setjen Kemenhan Brigjen Rico Ricardo Sirait anisa meninggal dunia lantara mengalami heatstroke.
Heatstroke kondisi darurat medis paling parah akibat kepanasan, ketika suhu tubuh melonjak drastis hingga mencapai ≥ 40°C dan tubuh kehilangan kemampuan untuk mendinginkan diri.
Situasi ini kodnsi bisa mengancam jiwa dan dapat menyebabkan kerusakan organ vital jika tidak segera ditangani.
Anisa Muyassaroh tercatat sebagai lulusan Universitas Airlangga (UNAIR), salah satu perguruan tinggi negeri favorit di Surabaya, Jawa Timur yang dikenal dengan moto Excellence with Morality.
Anisa berkuliah di jurusan Fisika Fakultas Sains dan Teknologi (FST) UNAIR sejak 13 Agustus 2018 dan lulus pada tahun ajaran 2024/2025, ia belajar tentang pemahaman mengenai ilmu fisika murni dan aplikatif. **
