KITAINDONESIASATU.COM – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) berencana menggantikan penggunaan Liquefied Petroleum Gas (LPG) sebagai bahan bakar memasak. Nantinya mereka akan berupaya mendorong pemanfaatan jaringan gas bumi untuk rumah tangga (jargas).
Sekretaris Jenderal Kementerian ESDM Dadan Kusdiana mengatakan, pihaknya telah melakukan perhitungan keekonomian perihal harga jual jargas dengan harga jual LPG tabung non subsidi.
Namun dari hasil perhitungan itu, harga jual gas dari jargas bisa saja lebih murah dibandingkan dengan harga jual LPG tabung non subsidi.
Akan tetapi dengan harga gas di hulu sebesar US$ 4,72 per MMBTU, harga gas untuk jargas masih lebih mahal dibandingkan harga LPG bersubsidi per kg.
“Kita sudah analisa kalau dengan harga gas yang sekarang itu ke masyarakat itu lebih mahal dari pada LPG 3 kg (subsidi). Tapi lebih murah sebetulnya daripada LPG yang komersial (non subsidi),” ujar Dadan yang dikutip Jumat (30/8).
Karena itu, sambung Dasan, Kementerian ESDM tengah mengkaji kembali suatu skema yang memungkinkan agar harga gas untuk jargas bisa lebih kompetitif, khususnya bagi masyarakat pengguna LPG bersubsidi.
“Kita lagi ngitung. Ya oke kalau itu besaran mana subsidinya. Kalau kita menyediakan subsidi untuk LPG, kan bisa dihitung per kilonya sekian. Atau kita mau subsidi ke hulu yang gasnya, sehingga penerimaan dari KKKS-nya kan tidak boleh turun,” imbuhnya.
Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia belakangan ini cukup getol membicarakan mengenai lonjakan konsumsi LPG di masyarakat. Pasalnya, Indonesia telah lama bergantung pada impor LPG untuk memenuhi kebutuhan energi domestik dan menimbulkan beban besar pada devisa negara.
“Gas kita LPG konsumsi 7 juta, dalam negeri hanya 1,8 juta produksi kita. Sisanya kita impor, kenapa negara ini gini terus? Apa gak bisa kita bangun industri itu, atau sengaja dibiarkan untuk importir main terus,” ungkap Bahlil belum lama ini. (*)


