KITAINDONESIASATU.COM – Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali meningkat setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengumumkan serangan terhadap puluhan fasilitas militer AS di Bahrain dan Kuwait pada Rabu, 8 Juli 2026.
Operasi tersebut disebut sebagai balasan atas serangan militer Amerika yang sebelumnya menghantam berbagai target strategis Iran, termasuk sistem pertahanan udara, lokasi peluncuran rudal, dan kapal-kapal militer di sekitar Selat Hormuz.
Aksi saling serang ini memperbesar kekhawatiran dunia terhadap potensi konflik yang lebih luas di kawasan Timur Tengah.
Jalur pelayaran internasional dan stabilitas pasokan energi global pun kembali menjadi sorotan karena Selat Hormuz merupakan salah satu rute perdagangan minyak paling penting di dunia.
Serangan Balasan Iran Tingkatkan Risiko Konflik Regional
IRGC menyatakan operasi gabungan yang melibatkan rudal dan drone berhasil menghantam puluhan fasilitas militer Amerika di Bahrain dan Kuwait.
Selain itu, Iran mengklaim telah menembak jatuh sebuah drone pengintai MQ-9 serta menyerang pangkalan Armada Kelima AS di Bahrain dan Pangkalan Udara Ali Al-Salem di Kuwait.
Menurut Iran, serangan tersebut merupakan respons atas operasi militer Amerika yang dinilai melanggar kesepakatan gencatan senjata.
Sebelumnya, Komando Pusat Amerika Serikat atau CENTCOM mengumumkan telah menyerang lebih dari 80 target yang berkaitan dengan kemampuan militer Iran sebagai balasan atas serangan terhadap kapal-kapal komersial di Selat Hormuz.





