KITAINDONESIASATU.COM – Harga minyak dunia kembali mengalami tekanan pada perdagangan terbaru.
Penurunan tersebut dipengaruhi meningkatnya ekspektasi pasar terhadap kemungkinan Federal Reserve atau The Fed menaikkan suku bunga untuk meredam tekanan inflasi di Amerika Serikat.
Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak Oktober 2026 tercatat turun 13 sen atau sekitar 0,16 persen menjadi US$83,4 per barel di New York Mercantile Exchange.
Sementara itu, minyak mentah Brent untuk pengiriman Oktober 2026 melemah 39 sen atau sekitar 0,43 persen ke level US$89,31 per barel di London ICE Futures Exchange.
Pelemahan tersebut memperpanjang tekanan harga minyak dalam sepekan terakhir. WTI tercatat terkoreksi sekitar 4 persen, sedangkan Brent mengalami penurunan lebih dalam, yakni sekitar 5 persen.
Suku Bunga The Fed dan Selat Hormuz Tekan Harga Minyak Dunia
Sentimen pasar minyak turut dipengaruhi perkembangan kebijakan moneter Amerika Serikat.
Pernyataan Chairman The Fed Kevin Warsh dalam pidatonya pada Jumat memperkuat perkiraan bahwa bank sentral AS masih membuka kemungkinan menaikkan suku bunga pada tahun ini.
Potensi kenaikan suku bunga dapat memberikan tekanan terhadap harga minyak karena kebijakan tersebut berpotensi memperlambat aktivitas ekonomi dan menekan permintaan energi.
Investor pun cenderung memperhitungkan dampak kebijakan moneter terhadap prospek pertumbuhan ekonomi global.
Selain faktor The Fed, pasar minyak dunia juga mencermati perkembangan di Selat Hormuz.
Jalur perairan tersebut memiliki peran penting dalam distribusi minyak global sehingga setiap kabar mengenai kelancaran pelayaran dapat memengaruhi sentimen pasar.





