KITAINDONESIASATU.COM – Harga minyak dunia kembali menguat pada perdagangan Jumat (16/10/2026) di tengah meningkatnya risiko gangguan pasokan energi global.
Ketegangan di Selat Hormuz, ancaman terhadap fasilitas energi Arab Saudi, rencana Ukraina menyerang kilang minyak Rusia, serta penurunan persediaan minyak Amerika Serikat (AS) menjadi sejumlah faktor yang menekan pasar minyak mentah.
Minyak mentah Brent sempat menembus level tertinggi sejak Mei 2026 sebelum ditutup menguat 3,7 persen. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) mencatat kenaikan 3,5 persen. Dalam sepekan, penguatan WTI bahkan melampaui 10 persen, sedangkan Brent meningkat hampir 5 persen.
Kondisi ini menunjukkan bahwa harga minyak tidak hanya dipengaruhi keseimbangan permintaan dan produksi, tetapi juga keamanan jalur pelayaran serta risiko konflik di negara-negara produsen energi.
Selat Hormuz dan Konflik Timur Tengah Tekan Pasokan Minyak Dunia
Selat Hormuz menjadi salah satu titik paling krusial dalam perdagangan energi dunia. Sejumlah kapal dilaporkan menjadi sasaran serangan sejak 11 Oktober 2026 ketika Iran berupaya membatasi ekspor minyak melalui jalur tersebut.
Data peneliti energi Kpler menunjukkan pengiriman minyak mentah melalui Selat Hormuz turun menjadi 9,4 juta barel per hari pada pekan yang berakhir Rabu. Angka tersebut setara sekitar 70 persen dari rata-rata sebelum perang Iran.
Risiko pasokan turut meningkat setelah kelompok Houthi melancarkan serangan ke Arab Saudi. Ancaman terhadap fasilitas dan terminal ekspor minyak menambah kekhawatiran pasar mengenai kelancaran distribusi energi internasional.
Di Eropa Timur, pernyataan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengenai rencana serangan terhadap kilang minyak Rusia juga menambah ketidakpastian. Ketegangan tersebut memperbesar risiko gangguan produksi dan pengolahan minyak.





