KITAINDONESIASATU.COM – Pasar minyak dunia kembali menghadapi tekanan setelah konflik antara Amerika Serikat dan Iran memanas.
Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah mengubah arah pergerakan harga minyak yang sebelumnya diperkirakan akan lebih stabil pada paruh kedua 2026.
Kini, pelaku pasar kembali mencermati risiko gangguan distribusi energi yang dapat memengaruhi pasokan global.
Harga minyak mentah terus menunjukkan tren kenaikan dalam beberapa hari terakhir. Minyak Brent berhasil menembus kisaran 85 dolar AS per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) juga bergerak naik hingga berada di atas 80 dolar AS per barel.
Lonjakan tersebut lebih banyak dipicu oleh meningkatnya kekhawatiran terhadap keamanan jalur distribusi dibandingkan penurunan produksi.
Selat Hormuz Jadi Penentu Arah Harga Minyak
Selat Hormuz kembali menjadi pusat perhatian pasar energi dunia. Jalur pelayaran strategis tersebut merupakan pintu utama ekspor minyak dari sejumlah negara produsen di kawasan Teluk Persia.
Gangguan sekecil apa pun di wilayah ini mampu memicu kenaikan harga karena investor langsung memperhitungkan risiko keterlambatan pasokan.
Data pelayaran menunjukkan jumlah kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz mengalami penurunan tajam dibandingkan kondisi normal.
Sejumlah operator kapal memilih menunda perjalanan akibat meningkatnya ancaman keamanan setelah beberapa insiden yang terjadi di kawasan tersebut. Akibatnya, distribusi minyak membutuhkan waktu lebih lama untuk mencapai negara tujuan.
Padahal sebelumnya produksi dan ekspor minyak global mulai menunjukkan pemulihan seiring meningkatnya aktivitas pengiriman dari kawasan Teluk. Namun, situasi terbaru membuat optimisme pasar kembali memudar.





