KITAINDONESIASATU.COM – ExxonMobil dan Chevron mencatat lonjakan keuntungan pada kuartal II 2026 seiring kenaikan harga minyak global akibat perang AS-Iran di Timur Tengah.
Kondisi tersebut memberikan keuntungan besar bagi dua raksasa energi asal Amerika Serikat tersebut.
ExxonMobil membukukan laba US$14,5 miliar atau sekitar Rp259,5 triliun.
Dengan capaian tersebut, perusahaan diperkirakan menghasilkan sekitar US$160 juta atau Rp2,8 triliun setiap hari sepanjang periode tersebut. Perolehan ini menjadi yang tertinggi sejak 2022.
Harga Minyak Melonjak, Keuntungan Perusahaan ExxonMobil dan Chevron Meningkat
Chevron juga mencatat kinerja positif dengan laba US$12,1 miliar atau sekitar Rp216,5 triliun. Angka tersebut meningkat tajam dibandingkan laba US$2,5 miliar pada kuartal II tahun sebelumnya.
Kenaikan keuntungan perusahaan minyak tidak terlepas dari lonjakan harga minyak mentah dunia yang mencapai lebih dari 40 persen sepanjang 2026.
Konflik di Timur Tengah menyebabkan pasokan minyak dan kapasitas penyulingan terganggu sehingga margin industri meningkat.
ExxonMobil dan Chevron turut memperoleh manfaat karena memiliki jaringan kilang sendiri. Kondisi tersebut membuat keduanya dapat menikmati keuntungan dari bisnis hulu hingga hilir.
Chevron bahkan berhasil membalikkan kinerja bisnis hilirnya. Segmen kilang yang sebelumnya mengalami kerugian US$817 juta pada tahun lalu kini mencatat keuntungan US$4,9 miliar.
Perusahaan energi lain, Shell, juga membukukan laba hampir US$10 miliar pada kuartal II 2026.
Capaian tersebut lebih dari dua kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya dan menjadi salah satu keuntungan kuartalan terbesar dalam sejarah perusahaan.





