Nasib Perdamaian Timur Tengah Bergantung pada Gencatan Senjata di Gaza
Iran telah memperingatkan akan membalas pembunuhan pemimpin Hamas Ismail Haniyeh, yang terjadi selama kunjungannya ke Teheran, dan diatributkan kepada Israel, meskipun negara itu belum mengakui atau menyangkal keterlibatannya.
“Hanya gencatan senjata di Gaza yang mampu mencegah pembalasan langsung Iran terhadap Israel” ungkap pejabat senior Iran, Selasa, 13 Agustus 2024.
Menurut seorang pejabat keamanan, Iran dan sekutunya, seperti Hizbullah, akan melancarkan serangan jika pembicaraan Gaza gagal atau dianggap tertunda oleh Israel.
Iran telah terlibat dalam dialog intensif dengan negara-negara Barat dan AS untuk mengukur tanggapan mereka.
Duta Besar AS untuk Turki mengonfirmasi upaya Washington meminta sekutu untuk menenangkan Iran. Pembicaraan gencatan senjata Gaza dijadwalkan dimulai di Mesir atau Qatar. Iran menyatakan ingin tanggapannya tepat waktu dan tidak merusak peluang gencatan senjata, meskipun menganggap seruan untuk menahan diri bertentangan dengan hukum internasional.
Presiden Iran yang baru, Masoud Pezeshkian, menegaskan kembali dukungan Iran untuk gerakan perlawanan dan anti-Israel. Analis percaya Iran mengutamakan kepentingannya sendiri tetapi mungkin membalas dalam skala yang lebih kecil jika gencatan senjata tercapai.
Iran mungkin mengirim perwakilan untuk perundingan, meskipun tidak secara langsung terlibat, untuk menjaga komunikasi diplomatik dengan AS.
Sumber-sumber Hizbullah menyatakan Teheran akan memberi kesempatan pada negosiasi tetapi tetap berkomitmen untuk membalas.
Sebuah gencatan senjata akan memberikan perlindungan untuk respons yang lebih simbolis dari Iran. Sementara itu, Iran mempertimbangkan dukungan bagi Hizbullah dan sekutu lainnya untuk membalas pembunuhan Haniyeh dan komandan militer Hizbullah Fuad Shukr.
Balasan Iran diharapkan lebih efektif daripada serangan drone dan rudal pada 13 April, yang sebagian besar berhasil ditangkis oleh Israel.- ***
Sumber: The Guardian


