KITAINDONESIASATU.COM – Pernyataan mengejutkan datang dari peneliti Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN, Triyanto. Ia memastikan metode penangkapan dan penguburan ikan sapu-sapu tidak akan mencemari tanah-asal dilakukan dengan prosedur yang benar.
Menurutnya, kandungan logam berat dalam tubuh ikan tersebut memang ada, namun tidak akan menyebar ke lingkungan jika ikan dikubur cukup dalam, sekitar 1 hingga 2 meter. Dalam kondisi itu, logam tidak akan teroksidasi atau terbawa aliran air, melainkan tetap terperangkap di lokasi penguburan.
Triyanto mengungkapkan, ikan sapu-sapu secara alami menyerap logam berat karena sifatnya yang memakan hampir segala hal. Uniknya, zat berbahaya tersebut tidak dikeluarkan melalui kotoran, tetapi justru terserap ke dalam organ tubuh hingga menjadi bagian dari dagingnya.
Ia menegaskan, logam berat ini bersifat bioakumulatif—tidak bisa hilang begitu saja. Namun, jika ikan tersebut hidup di air bersih, kadar logamnya tidak akan bertambah. Artinya, pencemaran tidak semakin parah selama lingkungannya terjaga.
Saat ini, metode paling ampuh untuk mengendalikan populasi ikan invasif asal Amerika Selatan ini masih dengan cara penangkapan rutin dan penguburan. Triyanto juga memperingatkan bahwa menghadirkan predator asing seperti arapaima atau piranha justru bisa memicu masalah baru yang lebih berbahaya.
Sebaliknya, solusi jangka panjang justru terletak pada pemulihan kualitas air dan menjaga keseimbangan ekosistem. Ia menekankan pentingnya menghidupkan kembali predator alami seperti ikan baung, ikan gabus, hingga satwa seperti biawak dan berang-berang yang kini mulai langka.
“Dulu di Ciliwung masih ada labi-labi besar, sekarang sudah hilang. Padahal, keberadaan predator alami itu penting untuk mengontrol populasi ikan sapu-sapu secara alami,” ungkapnya. (*)
