KITAINDONESIASATU.COM – Isu resuffle kabinet dalam 100 hari pertama pemerintahan Prabowo Subianto semakin hangat diperbincangkan.
Di antara isu itu, muncul spekulasi mengenai kemungkinan dua mantan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan dan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), bergabung dalam kabinet.
Wacana ini mencuat setelah pakar tata negara Refly Harun dan analis politik Hendri Satrio menyinggungnya dalam beberapa kesempatan.
Menurut Refly, pemerintahan Prabowo cenderung memiliki batas yang kabur antara oposisi dan koalisi, membuka peluang bagi berbagai tokoh, termasuk Anies dan Ahok, untuk menjadi bagian dari jajaran menteri jika dinilai menguntungkan secara politik.
“Prabowo bisa saja mengambil langkah yang tidak terduga, sebagaimana yang pernah dilakukan Jokowi. Kabinet yang gemuk dan berbasis akomodasi politik menjadi salah satu contohnya,” ujar Refly.
Ia juga mengutip pendapat Hendri Satrio yang melihat hubungan Anies dan Ahok yang dulu diwarnai rivalitas, kini justru dapat menjadi simbol rekonsiliasi politik. Keduanya memiliki kesamaan dalam konstelasi politik saat ini, terutama dalam kaitannya dengan posisi Presiden Jokowi.
“Mereka tidak berada dalam lingkaran utama Jokowi saat ini, sehingga kemungkinan untuk mendekat ke Prabowo semakin terbuka,” kata Hendri.
Posisi Strategis dan Tantangan Politik
Salah satu aspek menarik dari spekulasi ini adalah peluang Anies dan Ahok menempati posisi kementerian strategis.
Anies, –dengan pengalamannya sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan– dinilai memiliki peluang untuk kembali menangani sektor pendidikan atau pemerintahan.
Sementara Ahok, yang pernah menjabat sebagai Komisaris Utama Pertamina, memiliki rekam jejak di bidang energi dan infrastruktur.
Namun, ada sejumlah tantangan yang harus dihadapi jika keduanya benar-benar dipertimbangkan masuk kabinet.
Bagi Ahok, aspek hukum menjadi kendala, mengingat aturan mengenai mantan terpidana dengan vonis lebih dari lima tahun bisa menjadi penghalang.
Sementara bagi Anies, tantangan utama datang dari basis pendukungnya yang selama ini berseberangan dengan Prabowo.
Wacana reshuffle kabinet semakin mencuat seiring kebutuhan Prabowo untuk memperkuat dukungan politik di parlemen.
Selain itu, potensi rekonsiliasi politik antara Anies dan Ahok juga dapat berdampak pada hubungan Prabowo dengan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri.
Jika Ahok mendapatkan restu dari PDIP untuk bergabung dalam kabinet, bukan tidak mungkin hubungan Prabowo dengan PDIP akan semakin erat.
“Kalau Megawati memberi izin, Ahok pasti tidak akan ragu untuk bergabung,” tambah Hendri.
Sejumlah pengamat menilai bahwa masuknya Anies dan Ahok ke kabinet bisa menjadi bagian dari strategi besar untuk membangun pemerintahan yang lebih inklusif dan mengakomodasi berbagai kepentingan politik.
Namun, keputusan akhir tetap berada di tangan Prabowo.- ***


